Wikipedia

Hasil penelusuran

Kamis, 30 Mei 2013

Sejarah Dunia Farmasi Islam

Peradaban Islam dikenal sebagai pioner dalam bidang farmasi. Para ilmuwan Muslim di era kejayaan Islam sudah berhasil menguasai riset ilimiah mengenai komposisi, dosis, penggunaan, dan efek dari obat-obatan sederhana dan campuran.  Selain menguasai bidang farmasi, masyarakat Muslim pun tercatat sebagai peradaban pertama yang memiliki apotek atau toko obat.

Sharif Kaf al-Ghazal dalam tulisannya bertajuk "The valuable contributions of Al-Razi (Rhazes) in the history of pharmacy during the Middle Ages", mengungkapkan, apotek pertama di dunia berdiri di kota Baghdad pada tahun 754 M. Saat itu, Baghdad telah menjadi ibukota Kekhalifahan Abbasiyah. ''Apotek pertama di Baghdad didirikan oleh para apoteker Muslim,'' ungkap al-Ghazal.

Jauh sebelum peradaban Barat mengenal apotek, masyarakat Islam lebih dulu menguasainya. Sejarah telah mencatat, apoteker pertama di Eropa baru muncul pada akhir abad ke-14, bernama Geoffrey Chaucer (1342-1400). Ia dikenal sebagai apoteker asal Inggris. Apotek mulai menyebar di Eropa setelah  pada abad ke-15 hingga ke-19 M, praktisi apoteker mulai berkembang di benua itu.

''Umat Islam-lah yang mendirikan warung pengobatan pertama,'' papar Howard R Turner dalam bukunya bertajuk  "Science in Medievel Islam" .  Philip K Hitti dalam bukunya yang terkenal bertajuk  "History of Arab", juga mengakui bahawa peradaban Islamlah yang pertama kali mendirikan apotek.

''Selain itu, peradaban Islam merupakan pendiri sekolah farmasi pertama,'' ungkap K Hitti. Ia juga membuktikan bahwa umat Muslim di era kekhalifahan sebagai pencipta pharmacopoeia yang pertama. Perkembangan ilmu farmasi yang begitu cepat, membuat apotek atau toko-toko obat tumbuh menjamur di kota-kota Islam.

Hampir di setiap rumah sakit besar di kota-kota Islam dilengkapi dengan apotek atau instalasi farmakologi. Apotek-apotek itu dikelola oleh apoteker yang menguasai ilmu peracikan obat. ''Kaum Muslimin menyumbang begitu banyak hal terhadap perkembangan apotek atau obat,'' ungkap Howard R Turner dalam bukunya bertajuk  "Science in Medievel Islam" .

Di era kejayaan Islam, toko-toko obat bermunculan bak jamur di musim hujan. Toko obat yang banyak jumlahnya tak cuma hadir di Baghdad kota metropolis dunia di era kejayaan Abbasiyah serta kota-kota Islam lainnya. Para ahli farmasi ketika itu sudah mulai mendirikan apotek sendiri. Mereka menggunakan keahlian yang dimilikinya untuk meracik, menyimpan, serta menjaga aneka obat-obatan.

Pemerintah Muslim pun turun mendukung pembangunan di bidang farmasi. Rumah sakit milik pemerintah yang ketika itu memberikan perawatan kesehatan secara cuma-cuma bagi rakyatnya juga mendirikan laboratorium untuk meracik dan memproduksi aneka obat-obatan dalam skala besar. Keamanan obat-obatan yang dijual di apotek swasta dan pemerintah diawasi secara ketat. Secara periodik, pemerintah melalui pejabat dari Al-Muhtasib  semacam badan pengawas obat-obatan mengawasi dan memeriksa seluruh toko obat dan apotek. Para pengawas dari Al-Muhtasib secara teliti mengukur akurasi berat dan ukuran kemurnian dari obat yang digunakan.

Pengawasan yang amat ketat itu dilakukan untuk mencegah penggunaan bahan-bahan yang berbahaya dalam obat dan sirup. Semua itu dilakukan semata-mata untuk melindungi masyarakat dari bahaya obat-obatan yang tak sesuai dengan aturan. Pengawasan obat-obatan yang dilakukan secara ketat dan teliti yang telah diterapkan di era kekhalifahan Islam.

Perkembangan  ilmu botani dan kimia telah mendorong umat Muslim untuk mengembangkan farmasi.  Pada masa itu, ilmuwan Muslim seperti  Muhammad ibnu Zakariya al-Razi (865-915 M) alias Razes turut mengembangkan pengobatan dengan menggunakan obat-obatan.  Selain itu, dokter dan ahli farmasi Muslim lainnya  Abu al-Qasim al-Zahrawi alias Abulcasis (936-1013 M) juga tercatat sebagai saintis perintis dalam bidang distiliasi dan sublimasi.

Tak cuma itu, Sabur ibnu Sahl (wafat 869 M), juga tercatat sebagai dokter pertama yang mencetuskan  pharmacopoedia. Ia telah menjelaskan beragam jenis obat-obatan  untuk mengobati penyakit. Ilmuwan Muslim lainnya yang turut menopang tumbuhnya aoptek di era Islam adalah  al-Biruni (973-1050 M). Sang ilmuwan legendaris Islam itu telah menulis buku farmakologi yang sangat berharga bertajuk  "Kitab al-Saydalah ( Buku tentang Obat-obatan)".

Dalam kitabnya al-Biruni menjelaskan secara detail pengetahuan mengenai peralatan untuk pembuatan oba-obatan, peran farmasi, fungsi serta tugas apoteker. Ia juga menjelaskan tentang apotek. Ilmuwan Muslim lainnya, Ibnu Sina  alias Avicenna juga menulis tak kurang dari 700 persiapan pembuatan obat, peralatannya, kegunaan dan khasiat obat -obatan tersebut.  Kontribusi Ibnu Sina dalam bidang farmasi itu dituliskannya dalam bukunya yang sangat monumental  "Canon of Medicine".

Ilmuwan Muslim lainnya yang turut menopang berdiri serta berkembangnya apotek di dunia Islam adalah al-Maridini dan Ibnu al-Wafid (1008-1074). Kedua karya ilmuwan Muslim itu  telah dicetak dalam bahasa Latin lebih dari 50 kali. Kitab yang ditulis keduanya diterjemahkan ke dalam bahasa Latin berjudul   "De Medicinis universalibus et particularibus dan   Medicamentis simplicibus".

"Kaum Muslimin telah menyumbang banyak hal dalam bidang farmasi dan pengaruhnya sangat luar biasa terhadap Barat," papar Turner. Menurut Turner, para sarjana Muslim di zaman kejayaan telah memperkenalkan sederet obat herbal yang terbukti berkhasiat untuk kesehatan, seperti, adas manis, kayu manis, cengkeh, kamper, sulfur, serta merkuri sebagai unsur atau bahan racikan obat-obatan.

Menurut K Hitti, kemajuan peradaban Islam dalam farmasi dan apotek ditopang oleh banyaknya buku dalam bidang farmakologi yang ditulis ilmuwan Muslim. K Hitti mencatat, buku farmakologi pertama di dunia Islam ditulis oleh  Jabir bin Hayyan.  Selain itu, ada pula karya  al-Razi, Ibnu Sina, Tabari dan d Majusi. ''al-Razi dan Ibnu Sina adalah dua dokter yang paling terkemuka di zamannya,'' ujar K Hitti.

Sejak dulu, apotek yang dikelola apoteker merupakan bagian yang tak terpisahkan dari  institusi rumah sakit. Hal itu sama halnya dengan  farmasi dan farmakologi yang juga merupakan bagian yang tak terpisahkan dari ilmu kedokteran. Dunia farmasi profesional secara resmi terpisah dari ilmu kedokteran di era kekuasaan Kekhalifahan Abbasiyah.

Terpisahnya farmasi dari kedokteran pada abad ke-8 M, membuat farmakolog menjadi profesi yang independen dan farmakologi sebagai ilmu yang berdiri sendiri. Menurut Howard R Turner, praktisi seperti herbalis, kolektor, penjual tumbuhan, rempah-rempah untuk obat-obatan, penjual dan pembuat sirup, kosmetik, air aromatik, serta apoteker merupakan profesi yang menopang geliat farmasi di dunia Islam. heri ruslan


Ilmuwan Muslim Penopang Apotek
 
  • Abu Jafar Al-Ghafiqi (wafat 1165 M)
Ilmuwan Muslim yang satu ini juga turut memberi kontribusi dalam pengembangan farmakologi dan farmasi. Sumbangan Al-Ghafiqi untuk memajukan ilmu tentang komposisi, dosis, meracik dan menyimpan obat-obatan dituliskannya dalam kitab Al-Jami Al-Adwiyyah Al-Mufradah. Risalah itu memaparkan tentang pendekatan dalam metodelogi, eksperimen, serta observasi dalam farmakologi dan farmasi.
 
  • Sabur Ibnu Sahl (wafat 869 M)
Ibnu Sahal adalah dokter pertama yang mempelopori pharmacopoeia. Kontribusinya dalam bidang farmakologi dan farmasi juga terbilang mata besar. Dia menjelaskan beragam jenis obat-obatan. Sumbangannya untuk pengembangan farmakologi dan farmasi dituangkannya dalam kitab Al-Aqrabadhin.
 
  • Yuhanna Ibnu Masawayh (777 M - 857 M)
Orang Barat menyebutnya Mesue. Ibnu Masawayh merupakan anak seorang apoteker. Kontribusinya juga terbilang penting dalam pengembangan farmasi dan farmakologi. Dalam kitab yang ditulisnya, Ibnu Masawayh membuat daftar sekitar 30 macam aromatik.Salah satu karya Ibnu Masawayh yang terkenal adalah kitab Al-Mushajjar Al-Kabir. Kitab ini merupakan semacam ensiklopedia yang berisi daftar penyakit berikut pengobatannya melalui obat-obatan serta diet.
 
  • Abu Hasan Ali bin Sahl Rabban at- Tabari
At-Tabari lahir pada tahun 808 M. Pada usia 30 tahun, dia dipanggil oleh Khalifah Al-Mutasim ke Samarra untuk menjadi dokter istana. Salah satu sumbangan At-Tabari dalam bidang farmakologi adalah dengan menulis sejumlah kitab. Salah satunya yang terkenal adalah Paradise of Wisdom. Dalam kitab ini dibahas mengenai pengobatan menggunakan binatang dan organ-organ burung. Dia juga memperkenalkan sejumlah obat serta cara pembuatannya.

Senin, 13 Mei 2013

Jamu dan Obat Herbal Terstandar (OHT)

Setelah mengenal apa itu fitofarmaka, kita mulai dulu membahas tentang obat tradisional Indonesia atau juga biasa disebut obat herbal alam (OBA) yang lain yakni Jamu dan Obat Herbal Terstandar (OHT). Menurut Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia no.HK.00.05.41.1384, Obat Bahan Alam (OBA) , Obat Tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik) atau campuran dari bahan tersebut, yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan

Jamu
fitofarmaka,logo fitofarmaka,info fitofarmaka,obat herbal terstandar,oht,obat tradisional
Lain dari fitofarmaka, Jamu bisa diartikan sebagai  obat tradisional yang disediakan secara tradisional, tersedia dalam bentuk seduhan, pil maupun larutan. Pada umumnya, jamu dibuat berdasarkan resep turun temurun dan tidak melalaui proses seperti fitofarmaka. Jamu harus memenuhi beberapa kriteria, yaitu:
  • Aman
  • Klaim khasiat berdasarkan data empiris (pengalaman)
  • Memenuhi persyaratan mutu yang berlaku
Sebuah ramuan disebut jamu jika telah digunakan masyarakat melewati 3 generasi. Artinya bila umur satu generasi rata-rata 60 tahun, sebuah ramuan disebut jamu jika bertahan minimal 180 tahun. Inilah yang membedakan dengan fitofarmaka, dimana pembuktian khasiat tersebut baru sebatas pengalaman, selama belum ada penelitian ilmiah. Jamu dapat dinaikkan kelasnya menjadi herbal terstandar atau fitofarmaka dengan syarat bentuk sediaannya berupa ekstrak dengan bahan dan proses pembuatan yang terstandarisasi

Obat Herbal Terstandar (OHT)
fitofarmaka,logo fitofarmaka,info fitofarmaka,obat herbal terstandar,oht,obat tradisional
Obat Herbal Terstandar (OHT) juga tidak sama dengan fitofarmaka. Obat Herbal Terstandar (OHT) adalah obat tradisional yang berasal dari ekstrak bahan tumbuhan, hewan maupun mineral. Perlu dilakukan uji pra-klinik untuk pembuktian ilmiah mengenai standar kandungan bahan yang berkhasiat, standar pembuatan ekstrak tanaman obat, standar pembuatan obat yang higienis dan uji toksisitas akut maupun kronis seperti halnya fitofarmaka.Dalam proses pembuatannya, OHT memerlukan peralatan yang lebih kompleks dan berharga mahal serta memerlukan tenaga kerja dengan pengetahuan dan keterampilan pembuatan ekstrak, yang hal tersebut juga diberlakukan sama pada fitofarmaka.
Inilah beberapa kriteria OHT, yang dibaca sekilas hampir mirip fitofarmaka. yaitu:
  • Aman
  • Klaim khasiat secara ilmiah, melalui uji pra-klinik
  • Memenuhi persyaratan mutu yang berlaku
  • Telah dilakukan standardisasi terhadap bahan baku yang digunakan dalam produk jadi.
Di Indonesia sendiri, telah beredar 17 produk OHT, seperti : diapet®, lelap®, kiranti®, dll. Sebuah herbal terstandar dapat dinaikkan kelasnya menjadi fitofarmaka setelah melalui uji klinis pada manusia.

Fitofarmaka

Fitofarmaka adalah obat tradisional dari bahan alam yang dapat disetarakan dengan obat modern karena proses pembuatannya yang telah terstandar, ditunjang dengan bukti ilmiah sampai dengan uji klinik pada manusia dengan kriteria memenuhi syarat ilmiah, protokol uji yang telah disetujui, pelaksana yang kompeten, memenuhi prinsip etika, tempat pelaksanaan uji memenuhi syarat. Dengan uji klinik akan lebih meyakinkan para profesi medis untuk menggunakan obat herbal di sarana pelayanan kesehatan. Masyarakat juga bisa didorong untuk menggunakan obat herbal karena manfaatnya jelas dengan pembuktian secara ilimiah.
Fitofarmaka juga bisa diartikan sebagai sediaan obat bahan alam yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan uji praklinis dan uji klinis bahan baku serta produk jadinya telah di standarisir (Badan POM. RI., 2004 ). Dari sini jelas bahwa dari ke tiga golongan obat tradisional yakni Jamu dan Obat Herbal Terstandar (OHT), fitofarmaka menempati level paling atas dari segi kualitas dan keamanan. 
Beberapa kriteria fitofarmaka, yaitu:
  • Aman
  • Klaim khasiat secara ilmiah, melalui uji pra-klinik dan klinik
  • Memenuhi persyaratan mutu yang berlaku
  • Telah dilakukan standardisasi bahan baku yang digunakan dalam produk jadi
Karena fitofarmaka perlu proses penelitian yang panjang serta uji klinis yang detail, sehingga fitofarmaka termasuk dalam jenis golongan obat herbal yang telah memiliki kesetaraan dengan obat, karena telah memiliki clinical evidence. Setelah lolos uji fitofarmaka, produsen dapat mengklaim produknya sebagai obat. Namun demikian, klaim tidak boleh menyimpang dari materi uji klinis sebelumnya. Misalnya, ketika uji klinis hanya sebagai antikanker, produsen dilarang mengklaim produknya sebagai antikanker dan antidiabetes.

Produk Fitofarmaka yang sudah disetujui BPOM :

  • Nodiar/tablet (PT. Kimia Farma) : untuk pengobatan diare nonspesifik
  • Rheumaneer/kapsul (PT. Nyonya Meneer) : untuk pengobatan nyeri sendi ringan sampai sedang
  • Stimuno (PT. Dexa Medica) : sebagai immunomodulator  dan sebagai terapi ajuvan dalam pengobatan tuberkulosa
  • X-gra/kapsul (PT. Phapros) :  untuk disfungsi ereksi dengan atau tanpa ejakulasi dini
  • Tensigard agromed/kapsul (PT Phapros) : untuk menurunkan tekanan darah sistolik/diastolik pada hipertensi ringan hingga sedang


Fitofarmaka dapat dikatakan sebagai obat herbal tertinggi dari Jamu dan Herbal Terstandar karena proses pembuatannya sudah mengadopsi CPOB dan sampai uji klinik pada manusia.

Minggu, 12 Mei 2013

Penggolongan Obat-Obatan


Ketika kita bertemu logo K pada kemasan obat, ini berarti obat tersebut termasuk golongan Obat Keras. Obat Keras ini dahulu disebut obar daftar G, G berarti gevaarlijk (bahasa Belanda) yang dalam bahasa Indonesia artinya berbahaya. Golongan ini merupakan obat berkhasiat keras yang tidak boleh digunakan sembarangan karena bisa berbahaya bagi tubuh, seperti meracuni tubuh bahkan bisa memperparah penyakit sehingga bisa mengakibatkan kematian. Obat ini hanya dapat diperoleh berdasarkan resep dokter dan hanya bisa dibeli di apotik, bukan toko obat mencakup obat-obat Antibiotik, obat-obatan yang mengandung hormon, serta obat-obatan Psikotropika.

Obat adalah bahan atau bahan-bahan yang siap digunakan untuk memengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan, dan kontrasepsi.

Sekilas lebih lanjut mengenai penggolongan obat:

A. Berdasarkan fungsi.
  1. Penyembuhan/terapeutik.
  2. Pencegahan (profilaksi).
  3. Diagnosis.

B. Berdasarkan pemakaian.
  1. Medicamentum ad usum intemum (untuk pemakaian dalam), yaitu obat yang  diminum melalui oral dan dalam kemasannya biasanya diberi etiket putih.
  2. Medicamentum ad usum extemum (untuk pemakaian luar), yaitu obat  yang digunakan tidak secara oral, misalnya dioleskan pada kulit, dan dalam kemasannya biasanya diberi etiket biru.
C. Berdasarkan cara kerja.
  1. Obat lokal, yakni obat yang bekerja pada jaringan setempat. Contoh: pemakaian topikal pada kulit.
  2. Obat sistemik, yaitu obat yang bekerja dan didistribusikan ke selu‑ruh tubuh, biasanya diberikan dengan jalur pemberian ekstravaskular (per oral) atau intravaskular (injeksi).
D. Berdasarkan undang-undang.
  • Obat bebas.
Obat bebas adalah obat yang dijual bebas di pasaran dan dapat dibeli tanpa  resep dokter. Tanda khusus pada kemasan dan etiket obat bebas adalah lingkaran hijau dengan garis tepi berwarna hitam.
Contoh: parasetamol.

  • Obat bebas terbatas.
Obat bebas terbatas (daftar W = waarschuwing = peringatan) adalah obat yang sebenarnya termasuk obat keras, tetapi masih dapat dijual atau dibeli bebas tanpa resep dokter, disertai dengan tanda peringatan. Tanda khusus pada kemasan dan etiket obat bebas terbatas adalah lingkaran biru dengan garis tepi berwarna hitam.
P1.    Awas! Obat Keras. Bacalah Aturan Pemakaiannya.
P2.    Awas! Obat Keras. Hanya untuk bagian luar dan badan.
P3.    Awas! Obat Keras. Tidak Boleh Ditelan.
P4.    Awas!Obat Keras. Hanya untuk dibakar.
P5.    Awas! Obat Keras. Obat Wasir, jangan ditelan

Contoh: bromheksin.

  • Obat keras dan psikotropika.
Obat keras (daftar G = geverlijk= berbahaya) adalah obat yang hanya dapat dibeli di apotik dengan resep dokter. Tanda khusus pada kemasan dan etiket adalah huruf K dalam lingkaran merah dengan garis tepi berwarna hitam.
Contoh: diltiazem.
Obat psikotropilka adalah obat keras baik alamiah maupun sintetis bukan narkotik, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku.
Contoh: diazepam dan phenobarbital.

  • Obat narkotika.
Obat narkotika (obat bius atau daftar 0 = opium) adalah obat yang berasal dari tumbuhan atau bukan tumbuhan, baik sintetis maupun semisintetis, yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan menimbulkan ketergantungan.
Tanda khusus :
                                                         
Contoh: morfin dan petidin.

Namun secara umum dibedakan berdasarkan beberapa hal, diantaranya :
  • Berdasarkan jenisnya  
Penggolongan obat berdasarkan jenis telah saya bahas diatas, antara lain :
  1. Obat Bebas
  2. Obat Bebas Terbatas
  3. Obat Keras
  4. Obat Psikotropika dan Narkotika.


 
  • Berdasarkan mekanisme kerja obat 
Menurut mekanismenya dibagi menjadi 5 jenis penggolongan antara lain :
  1. Obat yang bekerja pada penyebab penyakit, misalnya penyakit akibat bakteri atau mikroba, contoh antibiotik
  2. Obat yang bekerja untuk mencegah kondisi patologis dari penyakit contoh vaksin, dan serum.
  3. Obat yang menghilangkan simtomatik/gejala, meredakan nyeri contoh analgesik
  4. Obat yang bekerja menambah atau mengganti fungsi fungsi zat yang kurang, contoh vitamin dan hormon.
  5. Pemberian placebo adalah pemberian obat yang tidak mengandung zat aktif, khususnya pada pasien normal yang menganggap dirinya dalam keadaan sakit. contoh aqua pro injeksi dan tablet placebo.
Selain itu dapat dibedakan berdasarkan tujuan penggunaannya, seperti obat antihipertensi, kardiak, diuretik, hipnotik, sedatif, dan lain lain.
  • Berdasarkan tempat / lokasi pemakaian 
Menurut tempat / lokasi dibagi menjadi 2 golongan :
  1. Obat dalam yaitu obat obatan yang dikonsumsi peroral, contoh tablet antibiotik, parasetamol tablet
  2. Obat luar yaitu obat obatan yang dipakai secara topikal/tubuh bagian luar, contoh sulfur, dll
  • Berdasarkan cara pemakaian 
Menurut pemakaian dibagi atas :
  1. Oral : obat yang dikonsumsi melalui mulut kedalam saluran cerna, contoh tablet, kapsul, serbuk, dll
  2. Perektal : obat yang dipakai melalui rektum, biasanya digunakan pada pasien yang tidak bisa menelan, pingsan, atau menghendaki efek cepat dan terhindar dari pengaruh pH lambung, FFE di hati, maupun enzim-enzim di dalam tubuh
  3. Sublingual : Sublingual : pemakaian obat dengan meletakkannya dibawah lidah., masuk ke pembuluh darah, efeknya lebih cepat, contoh obat hipertensi : tablet hisap, hormon-hormon
  4. Parenteral : obat yang disuntikkan melalui kulit ke aliran darah. baik secara intravena, subkutan, intramuskular, intrakardial.
  5. Langsung ke organ, contoh intrakardial
  6. Melalui selaput perut, contoh intra peritoneal
  • Berdasarkan efek yang ditimbulkan 
Menurut efek ditimbulkan dibagi menjadi  :
  1. Sistemik : obat/zat aktif yang masuk kedalam peredaran darah.
  2. Lokal : obat/zat aktif yang hanya berefek/menyebar/mempengaruhi bagian tertentu tempat obat tersebut berada, seperti pada hidung, mata, kulit, dll
  • Berdasarkan daya kerja / terapi 
Menurut daya kerja / terapi dibagi yakni :
  1. Farmakodinamik : obat obat yang bekerja mempengaruhi fisilogis tubuh, contoh hormon dan vitamin
  2. Kemoterapi : obat obatan yang bekerja secara kimia untuk membasmi parasit/bibit penyakit, mempunyai daya kerja kombinasi.
  • Berdasarkan asal obat dan cara pembuatannya 
Menurut asall serta cara pembuatannya dibagi atas :
  1. Alamiah : obat obat yang berasal dari alam (tumbuhan, hewan dan mineral)
    • tumbuhan : jamur (antibiotik), kina (kinin), digitalis (glikosida jantung) dll
    • hewan : plasenta, otak menghasilkan serum rabies, kolagen.
    • mineral : vaselin, parafin, talkum/silikat, dll
  2. Sintetik : merupakan cara pembuatan obat dengan melakukan reaksi-reaksi kimia, contohnya minyak gandapura dihasilkan dengan mereaksikan metanol dan asam salisilat.
 Sumber : Farmasetika Dasar

Sabtu, 13 April 2013

Antibiotik Secara Umum

Klasifikasi antibiotika dan kemoterapetika yang sering dianjurkan dan digunakan adalah berdasarkan bagaimana kerja antibiotika tersebut terhadap kuman, yakni antibiotika yang bersifat primer bakteriostatik dan antibiotika yang bersifat primer bakterisid. Yang termasuk bakteriostatik di sini misalnya sulfonamida, tetrasiklin, kloramfenikol, eritromisin, trimetropim, linkomisin, klindamisin, asam paraaminosalisilat, dan lain-lain. Obat-obat bakteriostatik bekerja dengan mencegah pertumbuhan kuman, tidak membunuhnya, sehingga pembasmian kuman sangat tergantung pada daya tahan tubuh. Sedangkan antibiotika yang bakterisid, yang secara aktif membasmi kuman meliputi misalnya penisilin, sefalosporin, aminoglikosida (dosis besar), kotrimoksazol, rifampisin, isoniazid dan lain-lain.
 
Pembagian lain juga sering dikemukakan berdasarkan makanisme atau tempat kerja antibiotika tersebut pada kuman, yakni :
  1. Antibiotika yang bekerja menghambat sintesis dinding sel kuman, seperti : basitrasin, sefalosporin, sikloserin, penisilin, ristosetin dan lain-lain.
  2. Antibiotika yang merubah permeabilitas membran sel atau mekanisme transport aktif sel, seperti : amfoterisin, kolistin, imidazol, nistatin dan polimiksin.
  3. Antibiotika yang bekerja dengan menghambat sintesis protein, seperti: kloramfenikol, eritromisin (makrolida), linkomisin, tetrasiklin dan aminogliosida.
  4. Antibiotika yang bekerja melalui penghambatan sintesis asam nukleat, seperti asam nalidiksat, novobiosin, pirimetamin, rifampisin, sulfanomida dan trimetoprim.
Secara garis besar, jenis-jenis antibiotika dan kemoterapetika yang ada diantaranya mencakup jenis-jenis berikut ini :
  • Gol. Penisilin
Golongan penisilin bersifat bakterisid dan bekerja dengan mengganggu sintesis dinding sel. Antibiotika pinisilin mempunyai ciri khas secara kimiawi adanya nukleus asam amino-penisilinat, yang terdiri dari cincin tiazolidin dan cincin betalaktam. Spektrum kuman terutama untuk kuman koki Gram positif. Beberapa golongan penisilin ini juga aktif terhadap kuman Gram negatif. Golongan penisilin masih dapat terbagi menjadi beberapa kelompok, yakni:
  1. Penisilin yang rusak oleh enzim penisilinase, tetapi spektrum anti kuman terhadap Gram positif paling kuat. Termasuk di sini adalah Penisilin G (benzil penisilin) dan derivatnya yakni penisilin prokain dan penisilin benzatin, dan penisilin V (fenoksimetil penisilin). Penisilin G dan penisilin prokain rusak oleh asam lambung sehingga tidak bisa diberikan secara oral, sedangkan penisilin V dapat diberikan secara oral. Spektrum antimikroba di mana penisilin golongan ini masih merupakan pilihan utama meliputi infeksi-infeksi streptokokus beta hemolitikus grup A, pneumokokus, meningokokus, gonokokus, Streptococcus viridans, Staphyloccocus, pyoneges (yang tidak memproduksi penisilinase), Bacillus anthracis, Clostridia, Corynebacterium diphteriae, Treponema pallidum, Leptospirae dan Actinomycetes sp.
  2. Penisilin yang tidak rusak oleh enzime penisilinase, termasuk di sini adalah kloksasilin, flukloksasilin, dikloksasilin, oksasilin, nafsilin dan metisilin, sehingga hanya digunakan untuk kuman-kuman yang memproduksi enzim penisilinase.
  3. Penisilin dengan spektrum luas terhadap kuman Gram positif dan Gram negatif, tetapi rusak oleh enzim penisilinase. Termasuk di sini adalah ampisilin dan amoksisilin. Kombinasi obat ini dengan bahan-bahan penghambat enzim penisiline, seperti asam klavulanat atau sulbaktam, dapat memperluas spektrum terhadap kuman-kuman penghasil enzim penisilinase.
  4. Penisilin antipseudomonas (antipseudomonal penisilin). Penisilin ini termasuk karbenisilin, tikarsilin, meklosilin dan piperasilin diindikasikan khusus untuk kuman-kuman Pseudomonas aeruginosa.
  • Gol. Sefalosporin
Golongan ini hampir sama dengan penisilin oleh karena mempunyai cincin beta laktam. Secara umum aktif terhadap kuman Gram positif dan Gram negatif, tetapi spektrum anti kuman dari masing-masing antibiotika sangat beragam, terbagi menjadi 3 kelompok, yakni:
  1. Generasi pertama yang paling aktif terhadap kuman Gram positif secara in vitro. Termasuk di sini misalnya sefalotin, sefaleksin, sefazolin, sefradin. Generasi pertama kurang aktif terhadap kuman Gram negatif.
  2. Generasi kedua agak kurang aktif terhadap kuman Gram positif tetapi lebih aktif terhadap kuman Gram negatif, termasuk di sini misalnya sefamandol dan sefaklor.
  3. Generasi ketiga lebih aktif lagi terhadap kuman Gram negatif, termasuk Enterobacteriaceae dan kadang-kadang peudomonas. Termasuk di sini adalah sefoksitin (termasuk suatu antibiotika sefamisin), sefotaksim dan moksalatam.
  • Gol. Amfenikol
Golongan ini mencakup senyawa induk kloramfenikol maupun derivat-derivatnya yakni kloramfenikol palmitat, natrium suksinat dan tiamfenikol. Antibiotika ini aktif terhadap kuman Gram positif dan Gram negatif maupun ricketsia, klamidia, spirokaeta dan mikoplasma. Karena toksisitasnya terhadap sumsum tulang, terutama anemia aplastika, maka kloramfenikol hanya dipakai untuk infeksi S. typhi dan H. influenzae.

  • Gol. Tetrasiklin
Merupakan antibiotika spektrum luas bersifat bakteriostatik untuk kuman Gram positif dan Gram negatif, tetapi indikasi pemakaiannya sudah sangat terbatas oleh karena masalah resistensi, namun demikian antibiotika ini masih merupakan pilihan utama untuk infeksi-infeksi yang disebabkan oleh klamidia, riketsia, dan mikoplasma. Mungkin juga efektif terhadap N. meningitidis, N. gonorhoeae dan H. influenzae., termasuk di sini adalah tetrasiklin, klortetrasiklin, oksitetrasiklin, doksisiklin, minosiklin, metasiklin dan demeklosiklin.

  • Gol. Aminoglikosida
Merupakan golongan antibiotika yang bersifat bakterisid dan terutama aktif untuk kuman Gram negatif. Beberapa mungkin aktif terhadap Gram positif. Streptomisin dan kanamisin juga aktif terhadap kuman TBC. Termasuk di sini adalah amikasin, gentamisin, kanamisin, streptomisin, neomisin, metilmisin dan tobramisin, antibiotika ini punya sifat khas toksisitas berupa nefrotoksik, ototoksik dan neurotoksik.

  • Gol. Makrolida
Golongan makrolida hampir sama dengan penisilin dalam hal spektrum antikuman, sehingga merupakan alternatif untuk pasien-pasien yang alergi penisilin. Bekerja dengan menghambat sintesis protein kuman. Aktif secara invitro terhadap kuman-kuman Gram positif, Gram negatif, mikoplasma, klamidia, riketsia dan aktinomisetes. Selain sebagai alternatif penisilin, eritromisin juga merupakan pilihan utama untuk infeksi pneumonia atipik (disebabkan oleh Mycoplasma pneumoniae) dan penyakit Legionnaires (disebabkan Legionella pneumophilla) termasuk dalam golongan makrolida selain eritromisin juga roksitromisin, spiramisin, josamisin, rosaramisin, oleandomisin dan trioleandomisin.

  • Gol. Linkosamid.
Termasuk di sini adalah linkomisin dan klindamisin, aktif terhadap kuman Gram positif termasuk stafilokokus yang resisten terhadap penisilin. Juga aktif terhadap kuman anaerob, misalnya bakteroides. Sering dipakai sebagai alternatif penisilin antistafilokokus pada infeksi tulang dan sendi serta infeksi-infeksi abdominal. Sayangnya, pemakaiannya sering diikuti dengan superinfeksi C. difficile, dalam bentuk kolitis pseudomembranosa yang fatal.

  • Gol. Polipeptida.
Antibiotika golongan ini meliputi polimiksin A, B, C, D dan E. Merupakan kelompok antibiotika yang terdiri dari rangkaian polipeptida dan secara selektif aktif terhadap kuman Gram negatif, misalnya psedudomonas maupun kuman-kuman koliform yang lain. Toksisitas polimiksin membatasi pemakaiannya, terutama dalam bentuk neurotoksisitas dan nefrotoksisitas. Mungkin dapat berperan lebih penting kembali dengan meningkatnya infeksi pseudomonas dan enterobakteri yang resisten terhadap obat-obat lain.

  • Gol. Antimikobakterium
Golongan antibiotika dan kemoterapetika ini aktif terhadap kuman mikobakterium. Termasuk di sini adalah obat-obat anti TBC dan lepra, misalnya rifampisin, streptomisin, INH, dapson, etambutol dan lain-lain.

  • Gol. Sulfonamida dan Trimetropim
Kepentingan sulfonamida dalam kemoterapi infeksi banyak menurun karena masalah resistensi. Tetapi beberapa mungkin masih aktif terhadap bentuk-bentuk infeksi tertentu misalnya sulfisoksazol untuk infeksi dan infeksi saluran kencing. Kombinasi sulfamektoksazol dan trimetoprim untuk infeksi saluran kencing, salmonelosis, kuman bronkitis, prostatitis. Spektrum kuman mencakup kuman-kuman Gram positif dan Gram negatif.

  • Gol. Kuinolon
Merupakan kemoterapetika sintetis yang akhir-akhir ini mulai populer dengan spektrum antikuman yang luas terutama untuk kuman-kuman Gram negatif dan Gram positif, enterobakteriaceae dan pseudomonas. Terutama dipakai untuk infeksi-infeksi nosokomial. Termasuk di sini adalah asam nalidiksat, norfloksasin, ofloksasin, pefloksasin dan lain-lain.

  • Gol. lain-lain
Masih banyak jenis-jenis antibiotika dan kemoterapetika lain yang tidak tercakup dalam kelompok yang disebutkan di atas. Misalnya saja vankomisin, spektinomisin, basitrasin, metronidazol, dan lain-lain. Informasi mengenai pemakaian dan sifat masing-masing dapat dicari dari sumber pustaka baku. Vankomisin terutama aktif untuk Gram positif, terutama untuk S. areus, S. epidermidis, S. pneumoniae. Juga merupakan pilihan untuk infeksi stafilokokus yang resisten terhadap metisilin. Tetapi karena toksisitasnya, maka vankomisin hanya dianjurkan kalau antibiotika lain tidak lagi efektif.

Sabtu, 23 Maret 2013

Analgesik & Antipiretik

Analgesik & Antipiretik


Analgesik
adalah obat yang dapat mengurangi atau menghilangkan rasa nyeri dan akhirnya akan memberikan rasa nyaman pada orang yang menderita.

Nyeri merupakan suatu pengalaman sensorik dan motorik yang tidak menyenangkan, berhubungan dengan adanya potensi kerusakan jaringan atau kondisi yang menggambarkan kerusakan tersebut.

Antipiretik adalah obat yang dapat menurunkan demam (suhu tubuh yang tinggi). Pada umumnya (sekitar 90%) analgesik mempunyai efek antipiretik.
  • Gejala Nyeri  
dapat digambarkan sebagai rasa benda tajam yang menusuk, pusing, panas seperti rasa terbakar, menyengat, pedih, nyeri yang merambat, rasa nyeri yang hilang – timbul dan berbeda tempat nyeri.Nyeri terjadi jika organ tubuh, otot, atau kulit terluka oleh benturan, penyakit, keram, atau bengkak. Rangsangan penimbul nyeri umumnya punya kemampuan menyebabkan sel-sel melepaskan enzim proteolitik (pengurai protein) dan polipeptida yang merangsang ujung saraf yang kemudian menimbulkan impuls nyeri. Senyawa kimia dalam tubuh yang disebut prostaglandin beraksi membuat ujung saraf menjadi lebih sensitif terhadap rangsangan nyeri oleh polipeptida ini.
  • Penanganan Nyeri
Obat-obat yang dapat mengurangi nyeri antara lain :
· 
Golongan Para amino fenol : asetaminofen (Parasetamol ), fenasetin
 
Golongan Pirazolon : dipiron (antalgin)
·  
Derivat Asam Salisilat : Aspirin, Benorilat, Diflunisal, Salsalat
        
1 Derivat.As.Fenamat : As.Mefenamat, Meklofenamat
2 Derivat Asam Propionat : As.Tiaprofenat, Fenbufen, Flurbiprofen, Ibuprofen, Ketoprofen, Naproksen
3 Derivat As.Fenilasetat : Diklofenak, Fenklofenak

Rabu, 20 Maret 2013

Meningitis

Radang otak sangat mengancam nyawa seseorang, terutama bayi dan anak-anak. Tapi tak hanya bayi atau anak-anak, orang dewasa pun tak terlepas dari ancaman penyakit mematikan ini.

Radang otak atau yang dalam ilmu kedokteran dikenal dengan meningitis adalah terjadinya peradangan di selaput-selaput otak yang disebut meningen, yang mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang.Meningitis dapat disebabkan oleh berbagai macam mikroorganisme, seperti virus, bakteri, jamur atau parasit yang menyebar dalam darah ke cairan otak.Meningitis juga dapat disebabkan oleh penyakit-penyakit yang dapat memicu peradangan dari jaringan-jaringan tubuh tanpa infeksi, seperti kanker. Juga karena luka fisik atau obat-obatan tertentu.Meningitis yang disebabkan oleh bakteri lebih berbahaya ketimbang virus. Bakteri ini adalah pneumokokus yang bisa mengakibatkan kematian khususnya pada anak-anak. Bakteri pneumokokus memang bisa hidup dan diam di tenggorakan 10 persen orang sehat, baik bayi, balita dan individu dewasa.

Seperti dilansir dari Mayoclinic, orang-orang yang rentan terkena meningitis adalah:

1. Usia
Kebanyakan meningitis yang disebabkan oleh virus dan bakteri terjadi pada anak-anak di bawah usia 5 tahun. Namun, sejak pertengahan tahun 1980-an, setelah adanya vaksin untuk anak, pasien meningitis bergeser dari usia 15 bulan sampai 25 tahun.

Menurut data, sekitar 50 persen anak yang terkena meningitis dilaporkan meninggal. Jika lolos dari maut, balita akan mengalami gejala-gejala dari sisa penyakitnya seperti lumpuh, tuli, epilepsi, lamban dan retardasi mental.

2. Orang yang berkumpul atau tinggal di hunian padat penduduk
Orang yang tinggal perumahan yang padat penduduk, siswa yang tinggal di asrama, personil di pangkalan militer atau anak-anak yang dititipkan di penitipan anak (day care) akan meningkatkan risiko meningitis. Hal ini karena penyebaran penyakit menjadi lebih cepat bila sekelompok orang berkumpul.

3. Ibu hamil
Pada wanita yang hamil, ada peningkatan kontraksi listeriosis, yaitu infeksi yang disebabkan oleh bakteri listeria, yang juga dapat menyebabkan meningitis. Bila ibu hamil memiliki listeriosis, bayi yang belum lahir pun akan berisiko terkena.

4. Bekerja di lingkungan yang berhubungan dengan hewan
Pekerjaan yang selalu berhubungan dengan hewan, seperti peternak, juga memiliki risiko tinggi tertular listeria, yang dapat mengakibatkan meningitis.

5. Orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah antara lain:
- Bayi yang lahir kurang bulan (prematur) dan berat lahir rendah
- Bayi yang hanya diberi ASI sebentar atau sedikit
- Orang yang sering terpapar asap rokok
- Orang yang sering mengalami infeksi virus di saluran pernapasan
- Penderita penyakit kronis seperti kanker dan diabetes, penderita HIV
- Pengguna obat immunosuppresan juga lebih rentan terhadap meningitis.

Sekitar 25 persen orang yang terkena meningitis memiliki gejala yang berkembang selama 24 jam. Selebihnya, akan menjadi sakit selama 1 hingga 7 hari. Terkadang, jika seseorang mengonsumsi antibiotik untuk infeksi lain, gejala dapat berkembang lebih lama.

  • Menular
Meningitis sangat menular, yaitu melalui cairan ludah atau ingus ketika anak bersin, bicara, tertawa maupun batuk dan terhirup oleg orang lain ketika mereka bernapas. Penularan juga dapat terjadi jika balita makan atau minum bersama penderita dari piring dan gelas yang sama. Bahkan, memakai handuk, memegang bekas tisu yang baru dipakai membersihkan hidung, juga bisa menjadi media penularan. Penderita meningitis masih akan menularkan penyakitnya selama mereka masih menunjukkan gejala penyakit tersebut. Bahkan, penderita menagitis yang  penyebabnya bakteri, masih dapat menularkan penyakitnya sekitar 24 jam setelah mereka diberi antibiotik.
  • Penyebab
Umumnya penyebab adalah bakteri atau virus, kadang-kadang pula disebabkan jamur, protozoa maupun parasit. Dibandingkan dengan meningitis yang disebabkan virus, meningitis yang disebabkan bakteri agak jarang terjadi. Namun, meningitis yang disebabkan bakteri bisa mengakibatkan kondisi yang sangat serius jika tak ditangani dengan baik. Misalnya terjadi tuna ganda, seperti lumpuh dan gangguan mental.
  • Gejala
Muncul beberapa hari setelah balita menderita batuk pilek, diare dan muntah-muntah, yang merupakan tanda-tanda infeksi bakteri atau virus. Antara lain:
  • Demam (sekitar 39º C)
  • Lesu, lemah dan rewel.
  • Sakit kepala dan mata sensitif terhadap cahaya.
  • Kaku kuduk, kadang-kadang ruam kulit dan kulitnya berwarna kuning serta kejang.
  • Tidak mau makan, atau minum susu.
  • Kedinginan.
  • Menangis menjerit-jerik seperti kesakitan.
  • Ubun-ubun bayi yang masih terbuka mungkin tampak menonjol dan keras.
  • Pada bayi yang mash kecil, gejala-gejala klasik bisa terlihat malas menyusu, serta tampak lesu dan lemah sekali.
Masa inkubasi: 2-14 hari
  • Penanganan
Begitu balita terdiagnosa menderita meningitis, dia perlu dirawat di rumah sakit. Dengan penanganan yang maksimal, meningitis yang disebabkan bakteri dapat sembuh sekitar 3 minggu. Usahakan balita banyak mengonsumsi cairan dan istrirahat.
  • Pencegahan:
  1. Lakukan imunisasi HiB/pneumokokus.
  2. Jaga kebersihan dengan mencuci tangan yang bersih, terutama sebelum makan.
  3. Hindari kontak dengan seseorang yang sedang tampak sakit.
  4. Hindari berbagai makanan atau minuman dari piring atau gelas yang sama.

Senin, 11 Maret 2013

Gangguan Jantung

Penyakit jantung banyak sekali macamnya. Para penderitanya juga seringkali terkena lebih dari satu gangguan (komplikasi). Berikut adalah beberapa jenis penyakit jantung yang perlu Anda diketahui. Daftar ini hanyalah sebagian dari belasan jenis gangguan jantung lain yang dapat mengancam kita.
  •  Aterosklerosis.
Aterosklerosis adalah penebalan dinding arteri sebelah dalam karena endapan plak (lemak, kolesterol dan buangan sel lainnya) sehingga menghambat dan menyumbat pasokan darah ke sel-sel otot. Aterosklerosis dapat terjadi di seluruh bagian tubuh. Bila terjadi pada dinding arteri jantung, maka disebut penyakit jantung koroner (coronary artery disease) atau penyakit jantung iskemik.
Aterosklerosis berlangsung menahun dan menimbulkan banyak gangguan penyakit. Aterosklerosis dimulai dari adanya lesi dan retakan pada dinding pembuluh darah, terutama karena adanya tekanan kuat pada pembuluh jantung. Pada tahap berikutnya, tubuh berusaha memulihkan diri dengan menempatkan zat-zat lemak ke dalam pembuluh darah untuk menutup keretakan. Lambat laun, karena proses peretakan dan penutupan yang berulang, zat-zat lemak itu bisa menutup pembuluh jantung.
Salah satu gejala aterosklerosis jantung adalah Angina pektoris, yaitu rasa nyeri/tidak enak di daerah jantung dan dada karena berkurangnya pasokan darah ke otot jantung. Angina bisa terjadi baik saat beraktivitas fisik maupun beristirahat. Bila berlanjut, angina bisa berkembang menjadi infark miokard akut yang berbahaya
  • Infark Miokard Akut
Infark miokard adalah kematian otot jantung karena penyumbatan pada arteri koroner. Otot-otot jantung yang tidak tersuplai darah akan mengalami kerusakan atau kematian mendadak.
  • Kardiomiopati
Kardiomiopati adalah kerusakan/gangguan otot jantung sehingga menyebabkan dinding-dinding jantung tidak bergerak sempurna dalam menyedot dan memompa darah. Penderita kardiomiopati seringkali berisiko terkena arritmia dan gagal jantung mendadak. Kardiomiopati masih dibagi lagi jenisnya menjadi kardiomipati kongestif, hipertrofik, restriktif dan peripartum.
  • Arritmia
Arritmia berarti irama jantung tidak normal, yang bisa disebabkan oleh gangguan rangsang dan penghantaran rangsang jantung ringan maupun berat.
  • Gagal Jantung Kongestif.
Gagal jantung adalah ketidakmampuan jantung untuk memompa darah secara efektif ke seluruh tubuh. Jantung dikatakan gagal bukan karena berhenti bekerja, namun karena tidak memompa sekuat yang seharusnya. Sebagai dampaknya, darah bisa berbalik ke paru-paru dan bagian tubuh lainnya.
  • Fibrilasi Atrial
Fibrilasi atrial adalah gangguan ritme listik jantung yang mengganggu atrial. Gangguan impuls listrik ini menyebabkan kontraksi otot jantung tidak beraturan dan memompa darah secara tidak efisien. Akibatnya, atrium jantung tidak sepenuhnya mengosongkan darah menuju ke serambi (ventrikel). Fibrilasi atrial biasanya terkait dengan banyak gangguan jantung lainnya, termasuk kardiomiopati, koroner, hipertropi ventrikel, dll. Hipertiroid dan keracunan alkohol juga bisa menyebabkan fibrilasi atrial.
  • Inflamasi Jantung
Inflamasi jantung dapat terjadi pada dinding jantung (miokarditis), selaput yang menyelimuti jantung (perikarditis), atau bagian dalam (endokarditis). Inflamasi jantung dapat disebabkan oleh racun maupun infeksi.
  • Penyakit Jantung Rematik
Penyakit jantung rematik adalah kerusakan pada katup jantung karena demam rematik, yang disebabkan oleh bakteri streptokokus.
  • Kelainan Katup Jantung
Katup jantung berfungsi mengendalikan arah aliran darah dalam jantung. Kelainan katup jantung yang dapat mengganggu aliran tersebut, antara lain karena pengecilan (stenosis), kebocoran (regurgiasi), atau tidak menutup sempurna (prolapsis). Kelainan katup dapat terjadi sebagai bawaan lahir maupun karena infeksi dan efek samping pengobatan.

Kamis, 24 Januari 2013

Selasa, 22 Januari 2013

Antibiotik Klasifika

Obat-obat antibiotik ditujukan untuk mencegah dan mengobati penyakit-penyakit infeksi. Pemberian antibiotik pada kondisi yang bukan disebabkan oleh bakteri banyak ditemukan dari praktek sehari-hari, baik di puskesmas (primer), rumah sakit, maupun praktek swasta. Ketidak tepatan diagnosis, pemilihan antibiotik, indikasi hingga dosis, cara pemberian, frekuensi dan lama pemberian menjadi penyebab tidak kuatnya pengaruh infeksi dengan antibiotik (Wattimena, 1991).
Penggunaan antibiotik yang tidak tepat di rumah sakit banyak terjadi seperti belum jelas penyebab penyakit (diagnosis belum jelas), pemilihan yang hanya didasarkan pada pengalaman (tanpa didukung bukti ilmiah), cara pemberian yang kurang tepat, frekuensi dan lama pemberian yang kurang atau justru berlebihan dan seringnya antibiotik diganti dengan antibiotik lain yang berbeda khasiat dan indikasinya karena alasan persediaan habis (Dwiprahasto, 1998). Penggunaan antibiotik secara berlebihan merupakan salah satu penyebab terjadinya resistensi kuman. Demikian juga yang terjadi di negara-negara Eropa saat ini. Penelitian dilakukan terhadap pasien-pasien rawat jalan di 26 negara di Eropa dengan melakukan analisa data antara tahun 1997 hingga 2002 kemudian menarik hubungan antara penggunaan antibiotik dengan tingkat resistensi kuman. Hasil analisis menunjukkan bahwa terjadi pergeseran dari penggunaan antibiotik spektrum sempit yang lama ke antibiotik spektrum luas yang lebih baru (Anonim, 2007a).
Virus dan bakteri seringkali menginfeksi saluran nafas anak. Infeksi saluran nafas bagian atas sering kali terjadi, tapi biasanya tidak serius (Biddulph dan Stace, 1999).
Infeksi saluran nafas bagian atas adalah infeksi-infeksi yang terutama mengenai struktur-struktur saluran nafas di sebelah atas laring. Kebanyakan penyakit saluran nafas mengenai bagian-bagian atas dan bawah saluran pernafasan secara bersama-sama atau berurutan, tetapi beberapa diantaranya terutama akan melibatkan bagian-bagian spesifik saluran nafas secara nyata (Nelson, 2000).
Infeksi saluran pernafasan akut bagian atas atau non pneumonia sebagian besar disebabkan oleh virus dan tidak berespon pada terapi antibiotik, akibatnya penderita mendapatkan pengobatan yang tidak diperlukan yang pada akhirnya akan menambah biaya pengobatan (Shulman dkk., 1994).
Penggunaan antibiotik pada anak memerlukan perhatian khusus karena absorbsi, distribusi, metabolisme dan ekskresi obat termasuk antibiotik pada anak berbeda dengan dewasa sehingga dapat terjadi perbedaan respons terapetik atau efek sampingnya (Dwiprahasto, 1998). Evaluasi terhadap ketidaktepatan antibiotik untuk anak-anak terutama penderita infeksi saluran pernafasan atas di pusat pelayanan kesehatan menjadi sangat penting dilakukan untuk menentukan langkah atau kebijaksanaan dalam menekan ketidaktepatan penggunaan obat.

1. ANTIBIOTIK

a. Definisi

Antibiotik pertama kali ditemukan oleh Alexander Fleming pada tahun 1928 yang secara kebetulan menemukan suatu zat antibakteri yang sangat efektif yaitu Penisilina. Penisilina ini pertama kali dipakai di dalam ilmu kedokteran pada tahun 1939 oleh Chain dan Florey (Widjajanti, 1999).
Antibiotik yaitu zat yang dihasilkan oleh mikroba, terutama fungi yang dapat menghambat pertumbuhan atau membasmi mikroba jenis lain (Anonim, 2000).

b. Klasifikasi

Dasar pembagian jenis antibiotik dapat digambarkan sebagai berikut :
1) Penggolongan antibiotik berdasarkan struktur kimia dibedakan beberapa kelompok yaitu:
a) Antibiotik beta laktam, yang termasuk antibiotik beta laktam yaitu penisilin (contohnya: benzyl penisilin, oksisilin, fenoksimetilpenisilin, ampisilin), sefalosporin (contohnya: azteonam) dan karbapenem (contohnya: imipenem).
b) Tetrasiklin, contoh: tetrasiklin, oksitetrasiklin, demeklosiklin.
c) Kloramfenikol, contoh: tiamfenikol dan kloramfenikol.
d) Makrolida, contoh: eritromisin dan spiramisin.
e) Linkomisin, contoh: linkomisin dan klindamisin.
f) Antibiotik aminoglikosida, contoh: streptomisin, neomisin, kanamisin, gentamisin dan spektinomisin.
g) Antibiotik polipeptida (bekerja pada bakteri gram negatif), contoh: polimiksin B, konistin, basitrasin dan sirotrisin.
h) Antibiotik polien (bekerja pada jamur), contoh: nistatin, natamisin, amfoterisin dan griseofulvin (Mutschler, 1991).
2) Berdasarkan kemampuan untuk membunuh kuman penyakit, antibiotik dikelompokkan menjadi dua yaitu :
a) Bersifat bakterisid (dapat membunuh bakteri) misalnya penisilin, sefalosporin, streptomisin, neomisin, kanamisin, gentamisin dan basitrasin.
b) Bersifat bakteriostatik (menghambat perkembangbiakan bakteri)
c) misalnya: sulfonamide, trimetropim, kloramfenikol, tetrasiklin, linkomisin dan klindamisin. Antibiotik tertentu (misalnya INH dan eritromisin) aktivitasnya dapat meningkat dari bakteriostatik menjadi bakterisid bila kadar antimikrobanya ditingkatkan melebihi kadar hambat minimal (KHM) (Ganiswarna, 1995).
3) Berdasarkan spektrum aktivitasnya antibiotik dibagi menjadi:
a) Antibiotik dengan spektrum luas, efektif baik terhadap gram-positif maupun Gram-negatif, contoh : turunan tetrasiklin, turunan kloramfenikol, turunan aminoglikosida, turunan makrolida, rifampisin, beberapa turunan penisilin, seperti ampisilin, amoksisillin, bakampisilin, karbenisilin, hetasilin, pivampisilin, sulbenisilin dan tikarsilin serta sebagian besar turunan sefalosporin.
b) Antibiotik yang aktivitasnya lebih dominan terhadap bakteri grampositif, contoh: basitrasin, eritromisin, sebagian besar turunan penisilin, seperti benzilpenisilin, penisilin G prokain, penisilin V, fenetisilin K, metisilin Na, nafsilin Na, oksasilin Na, kloksasilin Na, dikloksasilin Na dan floksasilin Na, turunan linkosamida, asam fusidat dan beberapa turunan sefalosporin.
c) Antibiotik yang aktivitasnya lebih dominan terhadap bakteri gramnegatif, contoh: kolistin, polimiksin B sulfat dan sulfomisin.
d) Antibiotik yang aktivitasnya lebih dominan terhadap Mycobacteriae (antituberkulosis), contoh: streptomisin, kanamisin, sikloserin, rifampisin, viomisin, kapreomisin.
e) Antibiotik yang aktif terhadap jamur (antijamur), contoh: griseofulvin dan antibiotik polien, seperti nistatin, amfoterisin B dan kandisidin.
f) Antibiotik yang aktif terhadap neoplasma, contoh: aktinomisin, bleomisin, daunorubisin, doksorubisin, mitomisin dan mitramisin (Siswandono dan Soekardjo, 2000).
Sifat dari antibiotik dapat berbeda satu dengan yang lain. Misalnya, penisilin G bersifat aktif terutama terhadap bakteri grampositif, sedangkan bakteri gram-negatif pada umumnya tidak peka atau resisten terhadap penisilin G sedangkan streptomisin memiliki sifat yang sebaliknya, tetrasiklin aktif terhadap beberapa bakteri gram-positif maupun bakteri gram-negatif dan terhadap Rickettsia dan clamydia (Ganiswarna, 1995).
4) Ditinjau dari cara kerja bakteri dalam menghambat pertumbuhan atau membunuh bakteri, antibiotik ini dibagi dalam 5 golongan:
a) Antibiotik yang menghambat metabolisme sel. Antibiotik yang termasuk dalam kelompok ini adalah sulfonamid, trimetoprim, asam p-aminosalisilat (PAS) dan sulfon. Obat tersebut menghasilkan efek bakteriostatik, misalnya : trimetoprim menghambat sintesis enzim dihidrofolat menjadi asam tetrahidrofolat, sulfonamid atau sulfon membentuk analog asam folat yang non fungsional.
b) Antibiotik yang menghambat sintesis dinding sel Dinding sel bakteri terdiri dari polipeptidoglikan. Sikloserin menghambat sintesis dinding sel yang paling dini, diikuti berturutturut oleh basitrasin, vankomisin, dan diakhiri oleh penisilin dan sefalosporin yang menghambat reaksi terakhir (transpeptidasi) dalam rangkaian tersebut.
c) Antibiotik yang mengganggu keutuhan membran sel Obat yang termasuk dalam kelompok ini ialah polimiksin, golongan polien, dan antibiotik kemoterapetik. Polimiksin merusak membran sel setelah bereaksi dengan fosfat pada fosfolipid membran sel mikroba, polien bereaksi dengan struktur sterol pada membran sel fagus sehingga mempengaruhi permeabilitas selektif membran tersebut (Ganiswarna, 1995).
d) Antibiotik yang menghambat sintesis protein. Beberapa dari antibiotik seperti itu, tetapi mekanismenya berbeda, tetrasiklin mengganggu fungsi tRNA dan aminoglikosid mengganggu fungsi mRNA; kloramfenikol menghambat peptydil transferase; lincomysin bersama clindamisin mengganggu translokasi.
e) Antibiotik yang mempengaruhi sintesis asam nukleat.
Beberapa antibiotik seperti itu, tetapi berbeda dengan mekanismenya; metronidazol dan nitrofurantoin merusak DNA, golongan quinolon menghambat DNA gyrase, rifampisin menghambat RNA polymerase, sulfonamid dan trimetroprim menghambat sintesis asam folat (Ganiswarna, 1995).

C Keberhasilan penggunaan antibiotik


Secara umum, berdasarkan ditemukannya kuman penyebab infeksi atau tidak, maka terapi antibiotik dapat dibagi menjadi tiga, yakni :
1) Terapi secara empirik atau terapi proporsional :
Yaitu penggunaan antibiotik yang memiliki spektrum luas pada keadaan infeksi yang belum dapat dipastikan kuman penyebabnya.Pemilihan jenis antibiotik berdasarkan pengalaman yang layak atau berdasar pola epidemiologi kuman setempat. Pertimbangan utama dari terapi ini adalah pengobatan infeksi mungkin akan memperkecil resiko komplikasi atau perkembangan lebih lanjut dari infeksinya, misalnya pada kasus pasien infeksi dengan kondisi depresi imunologik. Sedangkan keberatan dari terapi ini meliputi, jika pasien sebenarnya tidak menderita infeksi atau kepastian kuman penyebab tidak dapat diperoleh kemudian karena sebab-sebab tertentu (misalnya tidak didapat spesimen), maka terapi antibiotik seolah dilakukan secara buta (Anonim, 2003).
2) Terapi definitif, terapi terarah atau terapi langsung :
Yaitu penggunaan antibiotik berdasarkan hasil pemeriksaan mikrobiologis yang sudah pasti, jenis kuman maupun spektrum kepekaannya terhadap antibiotik. Dalam praktek sehari-hari, terapi antibiotik umumnya dilakukan secara empiris. Kemudian jika hasil pemeriksaan mikrobiologis menunjukkan ketidakcocokan dalam pemilihan antibiotik, maka antibiotik dapat diganti dengan yang lebih sesuai (Anonim, 2003).
3) Terapi profilaktif :
Antibiotik diberikan untuk penderita yang belum terkena infeksi, tetapi diduga mempunyai peluang besar untuk mendapat infeksi, atau apabila terkena infeksi dapat menimbulkan dampak buruk untuk penderita. Diperlukan protokol sendiri untuk tata cara penggunaannya, baik untuk kasus medik atau kasus bedah (Reese dkk., 2000).

d. Kegagalan terapi antibiotik

Prinsipnya, terapi antibiotik dinilai gagal bila tidak berhasil menghilangkan gejala klinik atau infeksi kambuh lagi setelah terapi dihentikan. Kesalahan yang lazim dibuat pada terapi antibiotik yang dapat menggagalkan terapi, pada dasarnya berkisar pada salah pilih antibiotik, salah pemberian/penggunaan antibiotik dan atau resistensi mikroorganisme.
1) Adapun faktor yang mempengaruhi kesalahan pemilihan antibiotik adalah:
a) Antibiotik yang salah sasaran.
b) Antibiotik diberikan untuk demam tanpa dokumentasi mikroorganisme.
c) Menggunakan antibiotik yang tidak aktif in vitro atau tidak mampu mencapai infeksi in vivo.
d) Menggunakan antibiotik yang toksik walaupun ada yang kurang toksik.
e) Menggunakan antibiotik yang mahal, walaupun tersedia yang murah dan efektif.
2) Kesalahan pemberian/penggunaan mempunyai faktor:
a) Dosis keliru.
b) Rute pemberian tidak memadai.
c) Jangka waktu penggunaan tidak cukup.
d) Gagal mengenal kejadian toksik.
e) Tidak memodifikasi dosis pada insufisiensi eliminasi.
f) Mengganti antibiotik, pada hal faktor tertentu pada hospes memerlukan koreksi.
3) Faktor lain yang menggagalkan terapi antibiotik ialah :
a) Resistensi mikroorganisme terhadap antibiotik yang digunakan.
b) Terjadinya superinfeksi (Wattimena, 1991).

e. Ketidaktepatan dalam penggunaan antibiotik

Penggunaan antibiotik secara tidak tepat telah banyak dilaporkan, baik di tingkat pelayanan kesehatan primer, rumah sakit maupun praktek swasta. Sebagian besar antibiotik pada demam memang tidak mengenai sasaran dan tidak efektif, tetapi pada keadaan tertentu ada gunanya, yaitu bila antibiotik mengenai sasaran yang tidak diperhitungkan semula. Hal ini benar-benar merupakan kebetulan karena jenis dan dosisnya pun harus kebetulan cocok (Wattimena, 1991).
Pada dasarnya, suatu infeksi lazimnya dapat ditangani secara berhasil oleh sistem pertahanan alamiah tubuh. Namun adakalanya sistem ini perlu ditunjang oleh penggunaan antibiotik, meskipun dewasa ini sangat disadari bahwa amat sering antibiotik telah mengalami penyalahgunaan (Wattimena, 1991).
Bila antibiotik yang digunakan tidak sesuai, maka dapat menimbulkan beberapa kerugian yaitu:
1) Semakin banyak antibiotik digunakan semakin banyak timbul resistensi kuman terhadapnya.
2) Meningkatnya efek samping tidak diimbangi oleh efektivitas obat.
3) Pasien harus mengeluarkan biaya yang lebih tinggi, yang sebagian besar tidak diperlukan.
4) Masking effect yang mungkin timbul menyulitkan follow up pasien dan mungkin menimbulkan kematian bila terlambat diketahui.
5) Menimbulkan false security pada dokter, sehingga mengabaikan cara-cara diagnosis yang baik (Mansjoer dkk., 2001).

f. Faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan antibiotik keliru

Penggunaan obat yang irrasional terjadi di semua negara. Menurut Quick, et.al (1997) penggunaan obat yang irasional terdiri dari;
1) Obat yang diberikan tidak diperlukan (No Drug Needed)
Penggunaan obat pada saat obat tidak diperlukan banyak dijumpai penggunaan obat yang nonterapetik. Contohnya di kebanyakan negara, mayoritas anak-anak yang mengalami infeksi saluran pernafasan atas ringan, diobati dengan antibiotik. Pada saat yang sama, penggunaan antibiotik yang tidak diperlukan dan tidak efektif, daripada menggunakan larutan oral dehidrasi sering diresepkan tanpa membedakan pada anakanak dengan diare akut.
2) Salah obat (Wrong Drug)
Pada beberapa negara, banyak anak-anak dengan faringitis streptococcus yang tidak diobati secara benar dengan menggunakan penisilin spektrum sempit. Sebaliknya tetrasiklin, yaitu obat yang tidak direkomendasikan untuk profilaksi demam rematik yang mengikuti faringitis streptococcus dengan efek samping serius pada anak, biasanya diresepkan.
3) Obat tidak aman (Unsafe Drugs)
Kemungkinan efek samping obat selain efek terapetik dapat muncul pada saat obat yang tidak aman diresepkan. Contoh yang umum penggunaan steroid, anabolik untuk stimulasi pertumbuhan dan nafsu makan pada anak atau atlet. Obat yang tidak efektif dan kemanjuran yang diragukan (Inneffective Drugs and Drugs with Doubtful Efficacy). Tidak digunakannya obat efektif yang tersedia (Under Use of Available Effective Drugs).
4) Penggunaan obat yang tidak benar (Incorrect Use of Drugs)
Sediaan injeksi umumnya digunakan secara tidak benar. Frekuensi penggunaan obat yang tidak benar adalah pada pemberian antibiotik yang hanya untuk 1-2 hari, daripada penggunaan untuk terapi yang penuh (Quick dkk.,1997).

g. Penggunaan antibiotik pada anak-anak

Penggunaan antibiotik yang tidak tepat baik dalam hal indikasi, maupun cara pemberian akan merugikan penderita serta akan memudahkan terjadinya resistensi terhadap antibiotik dan dapat menimbulkan efek samping. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah dosis obat yang tepat bagi anak-anak, cara pemberian, indikasi, compliance (kepatuhan), jangka waktu yang tepat dan dengan memperhatikan keadaan patofisiologi pasien secara tepat, diharapkan dapat memperkecil efek samping yang akan terjadi (Rudolph dkk., 2003).
Anak sering sakit karena menurunnya daya tahan tubuh akibat dari aktifitas yang dilakukan dengan lingkungan sehingga mudah sekali rentan terhadap segala penyakit. Kebanyakan orang tua melihat anaknya sakit tidak merelakan anaknya menderita, maka segala cara dilakukan untuk mengobatinya, termasuk pergi ke dokter. Obat-obat yang diresepkan dokter kebanyakan antibiotik, karena penyakit yang diderita anak biasanya batukpilek, flu, radang tenggorokan ataupun infeksi telinga tengah. Penyakitpenyakit infeksi yang sering diderita anak tersebut terutama disebabkan oleh virus, akan tetapi infeksi virus tidak dapat diatasi dengan pemberian antibiotik. Penggunaan antibiotik yang tidak bijak akan menyebabkan bakteri menjadi resisten terhadap pemberian antibiotik, sehingga pada akhirnya suatu saat nanti antibiotik tidak dapat mengatasi infeksi yang disebabkan oleh bakteri.

2. Infeksi Saluran Pernafasan (ISPA)

a. Definisi

Infeksi saluran nafas bagian atas adalah infeksi-infeksi yang terutama mengenai struktur-struktur saluran nafas di sebelah atas laring. Kebanyakan penyakit saluran nafas mengenai bagian-bagian atas dan bawah secara bersama-sama atau berurutan, tetapi beberapa di antaranya terutama akan melibatkan bagian-bagian spesifik saluran nafas secara nyata (Nelson, 2000).
Istilah infeksi saluran pernafasan atas mengandung tiga unsur yaitu infeksi, saluran pernafasan, dan atas. Infeksi adalah masuknya kuman dan mikroorganisme ke dalam tubuh manusia dan berkembang biak sehingga menimbulkan gejala penyakit. Adapun saluran pernafasan yaitu organ yang mulai dari hidung hingga alveoli beserta sinus-sinus, rongga telinga tengah dan pleura. Dengan demikian infeksi saluran pernafasan secara anatomis mencakup saluran pernafasan bagian atas, saluran pernafasan bagian bawah, termasuk jaringan paru dan organ adneksa saluran pernafasan (Anonim, 2005). Oleh karena itu yang dimaksud infeksi saluran pernafasan atas meliputi proses radang akut yang melibatkan organ pernafasan bagian atas yaitu hidung, sinus paranasal, ruang telinga tengah, orofaring dan tonsil, retrofaring, dan daerah laringo-epiglotis (Shulman dkk., 1994). 16

b. Klasifikasi dan Penatalaksanaan Kasus

Banyaknya infeksi saluran pernafasan atas yang melibatkan daerah anatomi yang tumpang tindih serta mikroorganisme yang bermacam-macam, maka penting bagi dokter mengenali tempat-tempat patologi primer agar dapat menyimpulkan dengan tepat agen etiologi mana yang paling mungkin (Shulman dkk., 1994).

1) Salesma (Common cold)

Salesma merupakan gabungan berbagai gejala yang mengganggu saluran nafas bagian atas utamanya selaput lendir, keadaan ini juga sering kali disebut pilek, rhinitis akut. Common cold disebabkan oleh mediator radang lokal yang merangsang serabut saraf nyeri dan sampai nerbosis sel epitel terbatas, penyebab utama batuk adalah sekresi mukosa faring (postnastal drip) dan bukan karena kelainan saluran nafas bagian bawah. Rata-rata lama Cold rinovirus dan Koronavirus kurang dari satu minggu. Ada permulaan yang mendadak sekresi hidung cair, hidung tersumbat, dan nyeri tenggorokan ringan dengan renorea cepat yang bertahan selama 2-4 hari dan kemudian sedikit demi sedikit sembuh (Shulman dkk., 1994).
Pilek merupakan penyakit yang sangat umum pada anak-anak. Beberapa anak mungkin terserang penyakit ini 5 atau 6 kali setiap tahun, gejalanya yaitu keluar ingus cair dari hidung, sakit tenggorokan, sakit kepala dan kadang-kadang sakit demam. Penyakit ini biasanya sembuh 2 sampai 3 hari. Terapi dengan antibiotik sebaiknya tidak diberikan untuk pilek karena tidak dapat membunuh virus penyebab pilek ini (Biddulph dan Stace, 1999). Gejala pilek dan ingusan hanya dilakukan tindakan dengan membersihkan hidung dengan kain pembersih yang bersih. Jangan sampai ingus mengering dan menyumbat lubang hidung, kalau perlu dibasahi dulu supaya dapat dikeringkan. Obat-obat pilek tidak diperlukan, oleh karena gejala tersebut akan hilang dengan sendirinya dalam beberapa hari bila tidak ada komplikasi (Dwiprahasto, 1998).

2) Sinusitis

Infeksi sinus pranasal membawa banyak persamaan dengan infeksi ruang telinga. Fisiologi normal sinus tergantung pada : keterbukaan ostia, fungsi apacatus siliare, dan kualitas sekresi mukosa (Shulman dkk., 1994).
Faktor yang memberi kecenderungan pada obstruksi ostimus sinus meliputi faktor yang terkait dengan pembekalan mukosa, termasuk infeksi virus, alergi, silia tidak bergerak, iritasi kimia oleh obat-obatan (obatobatan rhinitis), barotraumas (menyelam), dan trauma muka. Yang paling penting dari faktor-faktor ini yang menciptakan pembengkakan mukosa jelas adalah alergi dari virus infeksi saluran pernafasan atas. Sinusitis merupakan penyakit yang sangat serius, sering sub klinik dan sembuh sendiri, tetapi sering memerlukan perhatian pengobatan (Shulman dkk., 1994). 18
Menurut WHO (2001) sinusitis akut karena S. pneumoniae dan H. influenzae diberikan antibiotik amoksisillin 250-500 mg 3 kali sehari, kombinasi amoksisillin dan clavulanic acid, atau kombinasi sulfametoksasol dan trimethoprim 2 kali sehari selama 7-10 hari. Sedangkan dari pedoman pengobatan Rumah Sakit, sinusitis akut diberikan terapi amoksisilin 25-50 mg/kgBB/hari (Anonim, 2006b).

3) Faringitis atau Tonisilitis

Tonsilitis akut sering terjadi di daerah tropis ditandai dengan sakit tenggorokan, suhu badan meninggi, kadang muntah dan sakit perut. Pemeriksaan menunjukkan pembengkakan dan rasa nyeri pada kelenjar di sudut rahang, tonsil merah dan meradang. Tonsilitis akut dapat terjadi bersaman dengan faringitis akut. Virus penyebabnya adalah Epstein-Barr virus (EBV), sedangkan bakteri penyebabnya adalah Streptococcus pyogenes yang menyebabkan nyeri tenggorokan (Mansjoer dkk., 2001).
Menurut standar WHO penatalaksanaan tonsilitis faringitis yang disebabkan bakteri antibiotik yang disarankan meliputi eritromisin atau sefalexin untuk pasien yang mempunyai riwayat alergi terhadap antibiotik golongan penisilin. Alternatif lain yang disebutkan yaitu benzyl penisilin, atau fenoksimetilpenisilin, atau amoksisillin, diberikan selama 10 hari (Anonim, 2001). Sedangkan dari pedoman pengobatan Rumah Sakit, tonsilitis faringitis diberikan terapi amoksisilin 25-50 mg/kgBB/hari (Anonim, 2006b). 19

4) Otitis media

Peradangan telinga tengah merupakan penyakit yang paling sering terjadi pada anak-anak di bawah 3 tahun, dan bakteri lebih banyak ditemukan sebagai penyebabnya. Akan tetapi virus seperti virus influenza dan rhinoviruses, walaupun jarang, tetapi juga terkadang ditemukan. Bakteri yang paling sering menyebabkan penyakit ini adalah Streptococcus pneumoniae dan H. influenzae, sedangkan bakteri Morraxella catarrhalis dan Strep. pyogenes juga dapat menjadi penyebab namun kasusnya jarang terjadi (Walker dan Edward, 2003).
Pada perjalanan penyakit biasanya seorang anak dengan infeksi saluran nafas bagian atas selama beberapa hari akan mengalami otalgia, demam dan gangguan pendengaran. Pemeriksaan otoskop pneumatic akan mengungkapkan adanya membran timpani hiperamis, suram, menggelembung, dan mempunyai pergerakan yang buruk, serta dapat dijumpai otore bernanah (Nelson, 2000).
Pengobatan otitis media akut adalah dengan amoksisillin 250- 500 mg 3 kali sehari, kombinasi amoksisillin dan clavulanic acid, atau kombinasi sulfametoksasol dan trimethoprim 2 kali sehari selama 5 hari (Anonim, 2001). Sedangkan dari pedoman pengobatan Rumah Sakit, otitis media diberikan terapi amoksisillin 25-50 mg/ kgBB/ hari (Anonim, 2006b). 20

3. Anak

Penggolongan masa anak-anak menurut The British Pediatric Association (BPA) :
a. Neonatus; awal kelahiran - 1 bulan
b. Bayi (infant): 1 bulan - 1 tahun
c. Anak : 1 tahun - 12 tahun
d. Remaja: 12 tahun - 18 tahun

4. Pengobatan yang rasional

Suatu pengobatan dikatakan rasional bila memenuhi beberapa kriteria tertentu. Kriteria ini mungkin akan bervariasi tergantung interpretasi masingmasing, tetapi paling tidak akan mencakup :
a. Ketepatan indikasi
b. Ketepatan pemilihan obat
c. Ketepatan cara pakai dan dosis obat
d. Ketepatan penilaian terhadap kondisi pasien dan atau tindak lanjut pengobatan (Santoso dkk., 2003)
Penulisan resep yang tidak rasional selain menambah biaya kemungkinan juga dapat menimbulkan efek samping yang semakin tinggi serta dapat menghambat mutu pelayanan. Harga obat tidak terjangkau masyarakat akan menyebabkan hasil yang tidak diinginkan. Pengobatan yang irasional adalah pengobatan yang tidak sesuai atau tidak tepat dengan dosis, indikasi, jenis obat, diagnosis, cara dan lama pemberian, penilaian terhadap kondisi pasien, informasi dan tindak lanjutnya. (Sastramihardjo, 1997). 21
Langkah-langkah terapi yang rasional menurut World Health Organization (WHO) :
a. Menetapkan masalah pasien
b. Menentukan objek terapi
c. Memilih strategi terapi
1) Terapi Non Farmakologi
2) Terapi Farmakologi
a) Memilih kelompok obat yang tepat
b) Memilih obat dari kelompok obat terpilih
c) Menguji kecocokan dari terapi farmasi yang dipilih untuk pasien
d) Menulis resep
e) Memberi informasi, pengarahan dan peringatan
f) Monitoring terapi