Abstrak:
Kanker merupakan salah satu penyebab utama kematian di seluruh dunia. Terapi obat atau kemoterapi tetap menjadi metode utama dalam penanganan kanker, meskipun efektivitasnya bervariasi tergantung pada jenis, stadium, dan kondisi pasien. Artikel ini bertujuan untuk meninjau berbagai agen kemoterapi yang umum digunakan, mekanisme kerjanya, serta efektivitas dan efek samping yang ditimbulkan. Penelitian ini juga menekankan pentingnya pendekatan individual dalam pengobatan kanker serta peran farmasis klinis dalam optimalisasi terapi.
Kata Kunci: kanker, kemoterapi, terapi target, efek samping, farmasis klinis
Pendahuluan
Kanker adalah penyakit yang ditandai dengan pertumbuhan sel yang tidak terkendali dan penyebarannya ke jaringan sekitarnya. Terapi kanker dapat meliputi pembedahan, radioterapi, imunoterapi, serta kemoterapi. Di antara semuanya, kemoterapi tetap menjadi tulang punggung utama dalam manajemen kanker.
Namun, keberhasilan kemoterapi dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk jenis kanker, resistensi obat, serta kondisi klinis pasien. Oleh karena itu, pemahaman menyeluruh tentang mekanisme kerja dan potensi efek samping terapi obat menjadi sangat penting.
Metodologi
Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah studi pustaka dari berbagai jurnal nasional dan internasional yang diterbitkan antara tahun 2015 hingga 2024. Sumber utama meliputi PubMed, ScienceDirect, dan Google Scholar.
Hasil dan Pembahasan
1. Jenis Terapi Obat
-
Kemoterapi Sitotoksik:
Agen seperti doxorubicin, paclitaxel, dan cisplatin bekerja dengan menghambat mitosis sel kanker. Namun, mereka juga merusak sel normal, sehingga menimbulkan efek samping sistemik. -
Terapi Target Molekuler:
Contohnya adalah trastuzumab (HER2 inhibitor) dan imatinib (BCR-ABL inhibitor). Obat ini bekerja lebih spesifik dan memiliki efek samping yang lebih ringan dibandingkan kemoterapi konvensional. -
Imunoterapi:
Nivolumab dan pembrolizumab (checkpoint inhibitors) meningkatkan respons imun terhadap sel kanker. Efektivitasnya tinggi, terutama pada kanker paru dan melanoma.
2. Efek Samping Umum
-
Kemoterapi: mual, muntah, neutropenia, anemia, rambut rontok.
-
Terapi Target: ruam kulit, hipertensi, hepatotoksisitas.
-
Imunoterapi: kelelahan, reaksi autoimun, inflamasi sistemik.
3. Peran Farmasis dalam Terapi Kanker
Farmasis klinis berperan penting dalam:
-
Menyesuaikan dosis berdasarkan fungsi ginjal dan hati.
-
Edukasi pasien mengenai kepatuhan minum obat.
-
Monitoring efek samping dan interaksi obat.
-
Pengelolaan terapi suportif, seperti antiemetik dan hematopoietik growth factors.
Kesimpulan
Terapi obat pada pasien kanker merupakan intervensi kompleks yang membutuhkan pendekatan multidisiplin. Pilihan agen terapeutik harus disesuaikan dengan karakteristik tumor dan pasien. Peran farmasis sangat penting dalam memastikan efektivitas terapi dan mengurangi risiko efek samping.
Daftar Pustaka
-
DeVita, V. T., et al. (2020). Cancer: Principles & Practice of Oncology.
-
Longo, D. L., et al. (2019). Harrison’s Principles of Internal Medicine.
-
NCCN Guidelines (2023). National Comprehensive Cancer Network.
-
Hanahan, D., & Weinberg, R. A. (2011). Hallmarks of Cancer. Cell, 144(5), 646–674.
-
WHO. (2022). Cancer Fact Sheet.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar