Wikipedia

Hasil penelusuran

Sabtu, 27 Desember 2014

Cara Penggunaan Suppositoria

Kita akan mulai dengan tulisan ringan tentang cara penggunaan obat-obatan khusus.

Kita awali dengan cara penggunaan supositoria yang diartikan sebagai sediaan padat yang berbentuk seperti torpedo, bentuk ini memiliki kelebihan yaitu bila bagian yang besar masuk melalui otot penutup dubur, maka supositoria akan tertarik masuk dengan sendirinya. Umumnya, supositoria memiliki panjang ± 32 mm (1,5 inci), berbentuk silinder dan kedua ujungnya berbentuk seperti peluru tumpul. Berikut ini adalah cara penggunaan supositoria rectum atau supositoria yang dimasukan ke dubur.
Pertama : Cuci tangan anda dengan air mengalir yang bersih disertai sabun. Saran : gunakan air bersuhu normal (25 – 27 C) agar tangan anda tidak menjadi hangat saat membuka obat. Peningkatan suhu dapat melelehkan sediaan suppositoria.
Cuci Tangan

Kedua : Sebelum suppositoria dibuka dari pembungkus , pastikan suppositoria tersebut dalam keadaan keras untuk memudahkannya masuk dalam dubur/vaginal/uretra. Dunia Farmasi
Cara Menggunakan Suppositoria

Ketiga : Buka dengan hati-hati pembungkus suppositoria agar tidak merusak/mematahkan suppositoria.
Cara Menggunakan Suppositoria

Keempat : Tidak mematahkan suppositoria karena 1 suppositoria adalah 1 dosis obat, jika dipatahkan maka akan menjadi ½ dosis. obat
Cara Menggunakan Suppositoria

Kelima : Jika diresepkan untuk digunakan ½ dosis maka sebelum suppositoria dibuka, obat tersebut dibagi 2 (dua) dengan cara digunting menggunakan gunting/pisau yang sebelumnya dibersihkan (lebih baik menggunakan alkohol untuk membersihkan gunting/pisaunya). Cara Menggunakan Suppositoria
Cara Menggunakan Suppositoria

Keenam : Olesi bagian ujung suppositoria menggunakan lubrikan berbasis air (bisa dibeli di apotek) atau basahi dengan sedikit air matang.
Cara Menggunakan Suppositoria
Ketujuh : Posisikan tubuh anda seperti pada gambar, posisi sedikit miring ke kiri, kaki kanan dibagian atas lalu posisikan seperti pada gambar dibawah ini.
Cara Menggunakan Suppositoria
Kedelapan : Gunakan tangan kiri untuk membuka mulut dubur lalu tahan.
Cara Menggunakan Suppositoria

Kesembilan : Masukan suppositoria kedalam dubur dengan posisi bagian ujung suppositoria terlebih dahulu.Masukan dengan jari telunjuk/jari tengah tangan kanan sedalam 1 cm (anak-anak) – 5 cm (dewasa) atau seukuran telunjuk orang dewasa.

Kesepupuh : Diamkan selama beberapa menit (5-10 menit) pada posisi tetap tiduran, agar obat dapat meleleh dan diserap sempurna oleh pembuluh darah dan mencegah suppositoria keluar dari dubur.
Cara Menggunakan Suppositoria
Kesebelas : Setelah selesai cuci kembali tangan anda dan keringkan. Cara Menggunakan Suppositoria
Cuci tangan



Nah selesai penjelasan cara menggunakan suppositoria. Mudah-mudahan sobat semua mengerti.

Sumber : American Society of Health-System Pharmacists dengan perubahan


Minggu, 05 Oktober 2014

Swamedikasi

Swamedikasi menjadi alternatif yang diambil masyarakat untuk meningkatkan keterjangkauan pengobatan. Pada pelaksanaannya swamedikasi dapat menjadi sumber terjadinya kesalahan pengobatan (medication error) karena keterbatasan pengetahuan masyarakat akan obat dan penggunaannya. Masyarakat cenderung hanya tahu merk dagang obat tanpa tahu zat berkhasiatnya Menurut WHO, peran swamedikasi adalah menanggulangi secara cepat dan efektif keluhan yang tidak memerlukan konsultasi medis mengurangi beban pelayanan kesehatan pada keterbatasan sumber daya dan tenaga, serta meningkatkan keterjangkauan masyarakat yang jauh dari pelayanan kesehatan

Di tengah himpitan ekonomi saat ini apa lagi adanya kebijakan pemerintah menaikan harga BBM yang akan berimbas pada kenaikan komoditi kebutuhan dasar manusia, banyak masyarakat berupaya melakukan pengobatan terhadap dirinya sendiri (swamedikasi). Karena jika harus pergi ke dokter maka pasien dibebankan biaya diagnosa dan lagi jika diresepkan obat yang harganya tidak sedikit, inilah alasan yang mendasar mengapa banyak masyarakat masih tetap mengandalkan self medication/swamedilasi atau pengobatan sendiri tanpa dibekali keilmuan terkait obat-obatan dan penyakit yang memadai.
Perlu ditegaskan dalam hal ini adalah tidak semua penyakit dapat ditangani hanya oleh pengobatan sendiri, penyakit yang boleh diobati sendiri oleh orang awam memiliki ciri :
  1. Penyakit bersifat ringan seperti demam 1-2 hari, jika demam sudah lebih dari 3 hari maka diharuskan periksa lebih lanjut kepada dokter, dan harus waspada jika demam sampai kejang maka diwajibkan dibawa ke Rumah Sakit atau klinik terdekat.
  2. Flu dan batuk ringan biasanya sembuh +/- 1 minggu lebih dari itu sebaiknya menemui dokter untuk diagnosa lebih lanjut karena ditakutkan teridentifikasi TBC
  3. Diare ringan selama beberapa hari tetapi jika disertai demam lebih dari 3 hari disarankan menemui dokter
  4. Sakit kepala ringan biasanya sembuh setelah beristirahat/tidur
  5. Sembelit/konstipasi dan sukar tidur
Beberapa penyakit diatas dapat dikategorikan penyakit ringan dan dapat dilakukan pengobatan sendiri tetapi jika sudah melebihi batas waktu dari penyakit tersebut saya sarankan  menemui dokter untuk diagnosa lebih lanjut. Tetapi sangat disayangkan banyak ditemukan kesalahan dalam proses swamedikasi di masyarakat .

tidak semua orang mampu menerapkan praktik pengobatan diri sendiri (swamedikasi) secara benar, beberapa contoh kesalahan yang lazim dilakukan masyarakat dalam mengobati dirinya sendiri :
Mengobati flu, batuk, pilek dengan antibiotika biasanya antibiotik amoxicillin 500 mg.
  • Perlu diketahui bahwa flu, pilek dan biasanya disertai batuk disebabkan oleh virus bukan oleh bakteri, sedangkan amoxicillin 500 mg adalah obat yang ditujukan sebagai anti bakteri sehingga tidak ada relevansinya antibiotik untuk mengobati virus flu. Perlu dicermati penggunaan obat yang tidak tepat tidak ada manfaatnya bagi tubuh bahkan dapat merugikan karena efeksamping dari Amoxicillin yang muncul.

Penggunaan vitamin melebihi dosis
hasil riset The National Cancer Institute di Amerika Serikat menunjukkan bahwa orang yang setiap hari mengonsumsi lebih dari 1 macam multivitamin lebih besar risikonya menderita kanker prostat. Meskipun kebenaran hasil penelitian tersebut masih diperdebatkan kalangan ilmuwan. Karena sebenarnya tubuh hanya memerlukan vitamin dalam dosis sangat kecil tiap harinya daripada dosis vitamin yang beredar dipasaran seperti vitamin C 1000 mg padahal secara umum orang dewasa dengan BMI normal hanya membutuhkan sekitar 75 – 90 mg vitamin C per hari dan akan terpenuhi jika kita mengkonsumsi buah atau sayuran setiap hari.

Menyisakan obat untuk "sakit yang akan datang"
Banyak pasien yang tidak menghabiskan obat yang diresepkan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Misalnya, obat yang seharusnya dihabiskan dalam waktu 5 hari, namun hanya diminum sampai hari ke dua (karena merasa badan sudah membaik), lalu sisanya disimpan dan dipakai kalau penyakitnya kembali kambuh. Kesalahan ini akan berakibat fatal pada peresepan obat yang tergolong antibiotik karena aturan dasar antibiotik adalah diminum sesuai jadwal jangan sampai overdose (dosis berlebih) atau underdose (dosis kurang) dan diminum sampai habis walaupun sudah merasa penyakit membaik. Kesalahan ini dapat berakibat pada lama waktu sembuh pasien dapat lebih panjang dan lebih jauh dapat menyebabkan resistensi bakteri. 

Menggunakan obat orang lain
Kesalahan ini juga sering didengar saya di kampung “coba pakai obat punya saya, sakitnya sama seperti itu. baru minum 2 tablet sudah sembuh” kesalahpahaman ini susah untuk dirubah karena sudah menjadi semacam paradigma di masyarakat awam bahwa orang lain dapat menjadi panutan tentang kesehatan walaupun orang lain tersebut bukan berasal dari kelilmuan kesehatan.  meskipun penyakit yang kita derita sama dengan orang lain, tetapi belum tentu obat dan dosisnya Karena tingkat keparahan penyakit setiap orang berbeda-beda serta tidak ada data pasti jika penyakit yang diderita memang sama karena masyarakat awam hanya melihat secara fisik yang terlihat saja padahal kita tidak tahu kemungkinan ada komplikasi dengan penyakit lain. 

Membeli obat keras tanpa resep dokter
Jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia, akses mendapatkan obat di Indonesia masih terlalu mudah. Bahkan obat yang seharusnya hanya dapat dibeli dengan resep dokter, dapat dengan mudah didapatkan di apotek bahkan di toko obat. Ada beberapa kriteria yang memperbolehkan Apoteker menyerahkan obat keras tanpa resep dokter. Tetapi banyak juga jenis obat yang hanya boleh diberikan harus dengan resep dokter seperti obat golongan narkotik dan psikotropik.

Mengobati sendiri penyakit berat
Sampai saat, ini masih ada sebagian masyarakat yang lebih percaya pengobatan tradisional ketimbang pergi ke dokter, khususnya dalam mengobati penyakit berbahaya seperti misalnya, kanker, diabetes, jantung. Ada berbagai pengobatan alternatif di Indonesia mulai dari herbal, jamu sampai pengobatan secara ghaib (di luar nalar manusia), untuk penyakit yang tergolong berat sebaiknya langsung konsultasikan dengan dokter untuk mendiagnosa tingkat keparahan dan konsultasikan kepada Apoteker terkait pengobatan yang diresepkan dokter untuk memaksimalkan terapi.


Penggunaan Obat Herbal/Jamu berlebihan
Banyak sekali yang memberitakan bahwa jamu atau obat herbal dengan embel-embel back to nature “tidak ada efek sampingnya” menurut saya hal tersebut adalah pembodohan masyarakat yang sekarang seperti dibiarkan saja, apakah semua yang berhubungan dengan back to nature adalah suatu kebaikan untuk tubuh kita? Apakah jamu atau obat herbal tidak ada efek samping sama sekali ? bahkan ada beberapa acara talk show di TV nasional yang menyatakan dengan sangat jelas obat tradisional/jamu/herbal tidak ada efek samping. Hal tersebut sangat tidak benar semua tanaman herbal dapat menimbulkan efek samping yang membahayakan jika dikosumsi dalam dosis yang berlebihan seperti halnya obat kimia jika diminum dengan aturan tepat dosis dan tepat indikasi penyakit maka efek samping yang timbul dapat dihindari. Jadi obat tradisional/jamu maupun herbal maupun obat kimia terdapat efek samping jika diminum secara berlebihan.



Setelah anda mengetahui kesalahan-kesalahan tersebut maka sebaiknya anda menemui seorang ahli dalam bidang kesehatan seperti kepada Dokter dalam mendiagnosa penyakit dan Apoteker untuk berkonsultasi terkait pengobatan penyakit, jika dirasa penyakit yang dialami terasa lebih “berat” semoga Artikel ini bermanfaat.


Dari berbagai Sumber

Selasa, 16 September 2014

Obat Segala Penyakit

Semua orang tidak ada yang suka dengan penyakit, tetapi dalam proses hidup ini tidak ada manusia yang sehat selamanya, manusia mulia seperti Rasulullah pun pernah sakit. Sampai saat ini sudah ditemukan berbagai macam obat kimia dan obat herbal, tetapi tidak untuk semua penyakit. Obat ini untuk sakit ini dan obat itu khusus untuk penyakit itu dan seterusnya. Tapi tahukah anda ada suatu zat/obat untuk semua jenis penyakit dan ternyata 100% tanpa efek samping pada pemakaian normal.

Plasebo (dari bahasa Latin yang artinya “saya harus nyaman” atau “saya akan senang”) makna ini mengacu pada suatu fakta bahwa suatu keyakinan atas efektivitas dari suatu penanganan/pengobatan akan dapat membangkitkan harapan yang membantu mereka/pasien untuk menggerakkan diri sendiri agar menyelesaikan suatu masalah/penyakit yang dialami  tanpa melihat apakah substansi yang mereka terima adalah aktif secara kimiawi atau tidak. Pada dasarnya placebo merupakan proses pengobatan dengan sugesti tapi efek menyembuhkannya bisa lebih dahsyat dari obat sebenarnya.Apakah placebo itu yang disebut sebagai obat semua jenis penyakit ? ternyata bukan juga sob.
Dalam pengertian farmasi Plasebo adalah sediaan obat tanpa efek farmakologi berbentuk (tablet, kapsul, cairan) obat ini khusus diberikan untuk menenangkan pasien yang menurut diagnosa dokter tidak menderita gangguan organis atau untuk meningkatkan moral keyakinan pasien karena penyakit yang tidak bisa disembuhkan tetapi bisa dikontrol seperti Diabetes & Hipertensi. Manfaat lain dari obat placebo adalah dalam proses penelitian medis tentang kemoterapi, dengan membandingkan efek dari obat aktif dan plasebo, peneliti dapat menentukan apakah obat memiliki efek khusus di luar yang diharapkan. Zat inaktif dalam placebo umumnya berisi laktosa dan zat tambahan lain untuk membentuk suatu serbuk kapsul atau tablet tanpa zat aktif obat sama sekali, berbentuk kecil dan warna seperti layaknya obat asli.
Efek placebo yang sudah diketahui paling nyata adalah pada penderita lupus, penelitian menggunakan obat lupus dan placebo untuk mengurangi nyeri, ternyata setelah 2 minggu pasien yang minum placebo merasa tubuhnya lebih baik daripada pasien yang diberikan obat asli. Penelitian lain menyatakan obat plasebo dapat memperbaiki kondisi penyakit sekitar 33-37% untuk mengurangi rasa sakit, depresi, gelisah, penyakit Parkinson, gangguan inflamasi. Tetapi pada penelitian placebo untuk penyakit maag tidak menunjukan signifikasi efektivitasnya. Sampai saat ini mekanisme placebo dalam menyembuhkan atau mengurangi gejala penyakit belum diketahui, para ahli masih berpedoman pada efek sugesti/efek psikologis keyakinan yang diberikan kepada pasien bahwa obat yang diberikan dapat menyembuhkan.
Banyak penelitian yang melibatkan penggunaan obat placebo menunjukan obat placebo memiliki efek terapi seperti obat aslinya. Berdasarkan penelitian ini dibuat daftar kondisi medis untuk pengobatan dengan placebo antara lain
  • ADHD (sindrom hiperaktif pada anak)
  • Amalgam fillings (istilah kedokteran gigi)
  • Ansietas (kecemasan)
  • Asma
  • Autis dan masalah kebiasaan buruk anak
  • Tumor jinak prostat
  • Binge eating disorder (Gangguan makan berlebih)
  • Bipolar
  • Batuk
  • Depresi
  • Dyspepsia
  • Epilepsi
  • Alergi makanan
  • Gastric and duodenal ulcers
  • Sakit kepala
  • Hipertensi sedang dan berat
  • Migrain
  • Mual dan muntah
  • Parkinson
  • Nyeri sebelum menstrual
  • Nyeri reumatik
  • Sexual dysfunction: women
Walaupun sudah ada banyak penelitian yang membenarkan efek placebo, Amerika dan Inggris  menyatakan bahwa penggunaan plasebo tanpa persetujuan pasien tidaklah etis. Tetapi menurut Asosiasi Medis Jerman, obat plasebo tidak memiliki efek samping yang buruk dan bisa menjadi harapan terakhir untuk pasien yang mau berjuang keras untuk sembuh. Menurut saya mungkin alasan Amerika dan Inggris adalah dikhawatirkan adanya praktek kecurangan dari oknum dokter dengan meresepkan obat tanpa zat aktif (placebo) tetapi pasien tetap membayar dengan harga seperti obat dengan zat aktif. Hal ini tentunya akan sangat merugikan pasien karena hal tersebut termasuk dalam tindak penipuan.
Imajinasi otak tentang keyakinan atas sesuatu hal akan menyembuhkan yang tertanam pada otak bisa memberikan perubahan biologis dan mempengaruhi tingkat pesan kimiawi dan hormon stres yang menandakan rasa sakit dan kesenangan. Emosi juga dapat mempengaruhi perubahan psikologi. Contoh yang terjadi di Indonesia adalah anak yang terkena sakit batuk dan sesak biasanya akan akan menangis yang membuat saluran udara mengeras sehingga menyulitkan bernapas. Banyak orang percaya bahwa dengan kabut/embun dingin di pantai pada pagi hari akan dapat menyembuhkan dan ternyata banyak yang membuktikannya. Namun ketika diteliti tenyata hal tersebut sebenarnya tidak ada hubungannya antara embun pagi di pantai dengan kesembuhan sesak napas. Adanya efek plasebo menunjukkan pentingnya keyakinan, pikiran, dan jiwa kita dalam proses penyembuhan. Itulah sebabnya mengapa kita harus yakin pada obat yang diberikan dokter dan Apoteker. Keyakinan itu akan membuat kita sudah 50% dari proses penyembuhan apa lagi jika disertai dengan ber’doa kepadaNya meminta kesembuhan sebelum minum obat.
Obat semua jenis penyakit itu adalah keyakinan pikiran, dan jiwa yang kuat dan bersih atas kesembuhan yang diberikan oleh-Nya melalui placebo yang sebenarnya tidak berefek apa-apa, karena hanya dari-Nya Penyakit dan Obatnya berasal.
Sumber : Psikologi Abnormal | Obat-Obat Penting | Gen Tuhan | Wikipedia