Wikipedia

Hasil penelusuran

Kamis, 24 Januari 2013

Selasa, 22 Januari 2013

Antibiotik Klasifika

Obat-obat antibiotik ditujukan untuk mencegah dan mengobati penyakit-penyakit infeksi. Pemberian antibiotik pada kondisi yang bukan disebabkan oleh bakteri banyak ditemukan dari praktek sehari-hari, baik di puskesmas (primer), rumah sakit, maupun praktek swasta. Ketidak tepatan diagnosis, pemilihan antibiotik, indikasi hingga dosis, cara pemberian, frekuensi dan lama pemberian menjadi penyebab tidak kuatnya pengaruh infeksi dengan antibiotik (Wattimena, 1991).
Penggunaan antibiotik yang tidak tepat di rumah sakit banyak terjadi seperti belum jelas penyebab penyakit (diagnosis belum jelas), pemilihan yang hanya didasarkan pada pengalaman (tanpa didukung bukti ilmiah), cara pemberian yang kurang tepat, frekuensi dan lama pemberian yang kurang atau justru berlebihan dan seringnya antibiotik diganti dengan antibiotik lain yang berbeda khasiat dan indikasinya karena alasan persediaan habis (Dwiprahasto, 1998). Penggunaan antibiotik secara berlebihan merupakan salah satu penyebab terjadinya resistensi kuman. Demikian juga yang terjadi di negara-negara Eropa saat ini. Penelitian dilakukan terhadap pasien-pasien rawat jalan di 26 negara di Eropa dengan melakukan analisa data antara tahun 1997 hingga 2002 kemudian menarik hubungan antara penggunaan antibiotik dengan tingkat resistensi kuman. Hasil analisis menunjukkan bahwa terjadi pergeseran dari penggunaan antibiotik spektrum sempit yang lama ke antibiotik spektrum luas yang lebih baru (Anonim, 2007a).
Virus dan bakteri seringkali menginfeksi saluran nafas anak. Infeksi saluran nafas bagian atas sering kali terjadi, tapi biasanya tidak serius (Biddulph dan Stace, 1999).
Infeksi saluran nafas bagian atas adalah infeksi-infeksi yang terutama mengenai struktur-struktur saluran nafas di sebelah atas laring. Kebanyakan penyakit saluran nafas mengenai bagian-bagian atas dan bawah saluran pernafasan secara bersama-sama atau berurutan, tetapi beberapa diantaranya terutama akan melibatkan bagian-bagian spesifik saluran nafas secara nyata (Nelson, 2000).
Infeksi saluran pernafasan akut bagian atas atau non pneumonia sebagian besar disebabkan oleh virus dan tidak berespon pada terapi antibiotik, akibatnya penderita mendapatkan pengobatan yang tidak diperlukan yang pada akhirnya akan menambah biaya pengobatan (Shulman dkk., 1994).
Penggunaan antibiotik pada anak memerlukan perhatian khusus karena absorbsi, distribusi, metabolisme dan ekskresi obat termasuk antibiotik pada anak berbeda dengan dewasa sehingga dapat terjadi perbedaan respons terapetik atau efek sampingnya (Dwiprahasto, 1998). Evaluasi terhadap ketidaktepatan antibiotik untuk anak-anak terutama penderita infeksi saluran pernafasan atas di pusat pelayanan kesehatan menjadi sangat penting dilakukan untuk menentukan langkah atau kebijaksanaan dalam menekan ketidaktepatan penggunaan obat.

1. ANTIBIOTIK

a. Definisi

Antibiotik pertama kali ditemukan oleh Alexander Fleming pada tahun 1928 yang secara kebetulan menemukan suatu zat antibakteri yang sangat efektif yaitu Penisilina. Penisilina ini pertama kali dipakai di dalam ilmu kedokteran pada tahun 1939 oleh Chain dan Florey (Widjajanti, 1999).
Antibiotik yaitu zat yang dihasilkan oleh mikroba, terutama fungi yang dapat menghambat pertumbuhan atau membasmi mikroba jenis lain (Anonim, 2000).

b. Klasifikasi

Dasar pembagian jenis antibiotik dapat digambarkan sebagai berikut :
1) Penggolongan antibiotik berdasarkan struktur kimia dibedakan beberapa kelompok yaitu:
a) Antibiotik beta laktam, yang termasuk antibiotik beta laktam yaitu penisilin (contohnya: benzyl penisilin, oksisilin, fenoksimetilpenisilin, ampisilin), sefalosporin (contohnya: azteonam) dan karbapenem (contohnya: imipenem).
b) Tetrasiklin, contoh: tetrasiklin, oksitetrasiklin, demeklosiklin.
c) Kloramfenikol, contoh: tiamfenikol dan kloramfenikol.
d) Makrolida, contoh: eritromisin dan spiramisin.
e) Linkomisin, contoh: linkomisin dan klindamisin.
f) Antibiotik aminoglikosida, contoh: streptomisin, neomisin, kanamisin, gentamisin dan spektinomisin.
g) Antibiotik polipeptida (bekerja pada bakteri gram negatif), contoh: polimiksin B, konistin, basitrasin dan sirotrisin.
h) Antibiotik polien (bekerja pada jamur), contoh: nistatin, natamisin, amfoterisin dan griseofulvin (Mutschler, 1991).
2) Berdasarkan kemampuan untuk membunuh kuman penyakit, antibiotik dikelompokkan menjadi dua yaitu :
a) Bersifat bakterisid (dapat membunuh bakteri) misalnya penisilin, sefalosporin, streptomisin, neomisin, kanamisin, gentamisin dan basitrasin.
b) Bersifat bakteriostatik (menghambat perkembangbiakan bakteri)
c) misalnya: sulfonamide, trimetropim, kloramfenikol, tetrasiklin, linkomisin dan klindamisin. Antibiotik tertentu (misalnya INH dan eritromisin) aktivitasnya dapat meningkat dari bakteriostatik menjadi bakterisid bila kadar antimikrobanya ditingkatkan melebihi kadar hambat minimal (KHM) (Ganiswarna, 1995).
3) Berdasarkan spektrum aktivitasnya antibiotik dibagi menjadi:
a) Antibiotik dengan spektrum luas, efektif baik terhadap gram-positif maupun Gram-negatif, contoh : turunan tetrasiklin, turunan kloramfenikol, turunan aminoglikosida, turunan makrolida, rifampisin, beberapa turunan penisilin, seperti ampisilin, amoksisillin, bakampisilin, karbenisilin, hetasilin, pivampisilin, sulbenisilin dan tikarsilin serta sebagian besar turunan sefalosporin.
b) Antibiotik yang aktivitasnya lebih dominan terhadap bakteri grampositif, contoh: basitrasin, eritromisin, sebagian besar turunan penisilin, seperti benzilpenisilin, penisilin G prokain, penisilin V, fenetisilin K, metisilin Na, nafsilin Na, oksasilin Na, kloksasilin Na, dikloksasilin Na dan floksasilin Na, turunan linkosamida, asam fusidat dan beberapa turunan sefalosporin.
c) Antibiotik yang aktivitasnya lebih dominan terhadap bakteri gramnegatif, contoh: kolistin, polimiksin B sulfat dan sulfomisin.
d) Antibiotik yang aktivitasnya lebih dominan terhadap Mycobacteriae (antituberkulosis), contoh: streptomisin, kanamisin, sikloserin, rifampisin, viomisin, kapreomisin.
e) Antibiotik yang aktif terhadap jamur (antijamur), contoh: griseofulvin dan antibiotik polien, seperti nistatin, amfoterisin B dan kandisidin.
f) Antibiotik yang aktif terhadap neoplasma, contoh: aktinomisin, bleomisin, daunorubisin, doksorubisin, mitomisin dan mitramisin (Siswandono dan Soekardjo, 2000).
Sifat dari antibiotik dapat berbeda satu dengan yang lain. Misalnya, penisilin G bersifat aktif terutama terhadap bakteri grampositif, sedangkan bakteri gram-negatif pada umumnya tidak peka atau resisten terhadap penisilin G sedangkan streptomisin memiliki sifat yang sebaliknya, tetrasiklin aktif terhadap beberapa bakteri gram-positif maupun bakteri gram-negatif dan terhadap Rickettsia dan clamydia (Ganiswarna, 1995).
4) Ditinjau dari cara kerja bakteri dalam menghambat pertumbuhan atau membunuh bakteri, antibiotik ini dibagi dalam 5 golongan:
a) Antibiotik yang menghambat metabolisme sel. Antibiotik yang termasuk dalam kelompok ini adalah sulfonamid, trimetoprim, asam p-aminosalisilat (PAS) dan sulfon. Obat tersebut menghasilkan efek bakteriostatik, misalnya : trimetoprim menghambat sintesis enzim dihidrofolat menjadi asam tetrahidrofolat, sulfonamid atau sulfon membentuk analog asam folat yang non fungsional.
b) Antibiotik yang menghambat sintesis dinding sel Dinding sel bakteri terdiri dari polipeptidoglikan. Sikloserin menghambat sintesis dinding sel yang paling dini, diikuti berturutturut oleh basitrasin, vankomisin, dan diakhiri oleh penisilin dan sefalosporin yang menghambat reaksi terakhir (transpeptidasi) dalam rangkaian tersebut.
c) Antibiotik yang mengganggu keutuhan membran sel Obat yang termasuk dalam kelompok ini ialah polimiksin, golongan polien, dan antibiotik kemoterapetik. Polimiksin merusak membran sel setelah bereaksi dengan fosfat pada fosfolipid membran sel mikroba, polien bereaksi dengan struktur sterol pada membran sel fagus sehingga mempengaruhi permeabilitas selektif membran tersebut (Ganiswarna, 1995).
d) Antibiotik yang menghambat sintesis protein. Beberapa dari antibiotik seperti itu, tetapi mekanismenya berbeda, tetrasiklin mengganggu fungsi tRNA dan aminoglikosid mengganggu fungsi mRNA; kloramfenikol menghambat peptydil transferase; lincomysin bersama clindamisin mengganggu translokasi.
e) Antibiotik yang mempengaruhi sintesis asam nukleat.
Beberapa antibiotik seperti itu, tetapi berbeda dengan mekanismenya; metronidazol dan nitrofurantoin merusak DNA, golongan quinolon menghambat DNA gyrase, rifampisin menghambat RNA polymerase, sulfonamid dan trimetroprim menghambat sintesis asam folat (Ganiswarna, 1995).

C Keberhasilan penggunaan antibiotik


Secara umum, berdasarkan ditemukannya kuman penyebab infeksi atau tidak, maka terapi antibiotik dapat dibagi menjadi tiga, yakni :
1) Terapi secara empirik atau terapi proporsional :
Yaitu penggunaan antibiotik yang memiliki spektrum luas pada keadaan infeksi yang belum dapat dipastikan kuman penyebabnya.Pemilihan jenis antibiotik berdasarkan pengalaman yang layak atau berdasar pola epidemiologi kuman setempat. Pertimbangan utama dari terapi ini adalah pengobatan infeksi mungkin akan memperkecil resiko komplikasi atau perkembangan lebih lanjut dari infeksinya, misalnya pada kasus pasien infeksi dengan kondisi depresi imunologik. Sedangkan keberatan dari terapi ini meliputi, jika pasien sebenarnya tidak menderita infeksi atau kepastian kuman penyebab tidak dapat diperoleh kemudian karena sebab-sebab tertentu (misalnya tidak didapat spesimen), maka terapi antibiotik seolah dilakukan secara buta (Anonim, 2003).
2) Terapi definitif, terapi terarah atau terapi langsung :
Yaitu penggunaan antibiotik berdasarkan hasil pemeriksaan mikrobiologis yang sudah pasti, jenis kuman maupun spektrum kepekaannya terhadap antibiotik. Dalam praktek sehari-hari, terapi antibiotik umumnya dilakukan secara empiris. Kemudian jika hasil pemeriksaan mikrobiologis menunjukkan ketidakcocokan dalam pemilihan antibiotik, maka antibiotik dapat diganti dengan yang lebih sesuai (Anonim, 2003).
3) Terapi profilaktif :
Antibiotik diberikan untuk penderita yang belum terkena infeksi, tetapi diduga mempunyai peluang besar untuk mendapat infeksi, atau apabila terkena infeksi dapat menimbulkan dampak buruk untuk penderita. Diperlukan protokol sendiri untuk tata cara penggunaannya, baik untuk kasus medik atau kasus bedah (Reese dkk., 2000).

d. Kegagalan terapi antibiotik

Prinsipnya, terapi antibiotik dinilai gagal bila tidak berhasil menghilangkan gejala klinik atau infeksi kambuh lagi setelah terapi dihentikan. Kesalahan yang lazim dibuat pada terapi antibiotik yang dapat menggagalkan terapi, pada dasarnya berkisar pada salah pilih antibiotik, salah pemberian/penggunaan antibiotik dan atau resistensi mikroorganisme.
1) Adapun faktor yang mempengaruhi kesalahan pemilihan antibiotik adalah:
a) Antibiotik yang salah sasaran.
b) Antibiotik diberikan untuk demam tanpa dokumentasi mikroorganisme.
c) Menggunakan antibiotik yang tidak aktif in vitro atau tidak mampu mencapai infeksi in vivo.
d) Menggunakan antibiotik yang toksik walaupun ada yang kurang toksik.
e) Menggunakan antibiotik yang mahal, walaupun tersedia yang murah dan efektif.
2) Kesalahan pemberian/penggunaan mempunyai faktor:
a) Dosis keliru.
b) Rute pemberian tidak memadai.
c) Jangka waktu penggunaan tidak cukup.
d) Gagal mengenal kejadian toksik.
e) Tidak memodifikasi dosis pada insufisiensi eliminasi.
f) Mengganti antibiotik, pada hal faktor tertentu pada hospes memerlukan koreksi.
3) Faktor lain yang menggagalkan terapi antibiotik ialah :
a) Resistensi mikroorganisme terhadap antibiotik yang digunakan.
b) Terjadinya superinfeksi (Wattimena, 1991).

e. Ketidaktepatan dalam penggunaan antibiotik

Penggunaan antibiotik secara tidak tepat telah banyak dilaporkan, baik di tingkat pelayanan kesehatan primer, rumah sakit maupun praktek swasta. Sebagian besar antibiotik pada demam memang tidak mengenai sasaran dan tidak efektif, tetapi pada keadaan tertentu ada gunanya, yaitu bila antibiotik mengenai sasaran yang tidak diperhitungkan semula. Hal ini benar-benar merupakan kebetulan karena jenis dan dosisnya pun harus kebetulan cocok (Wattimena, 1991).
Pada dasarnya, suatu infeksi lazimnya dapat ditangani secara berhasil oleh sistem pertahanan alamiah tubuh. Namun adakalanya sistem ini perlu ditunjang oleh penggunaan antibiotik, meskipun dewasa ini sangat disadari bahwa amat sering antibiotik telah mengalami penyalahgunaan (Wattimena, 1991).
Bila antibiotik yang digunakan tidak sesuai, maka dapat menimbulkan beberapa kerugian yaitu:
1) Semakin banyak antibiotik digunakan semakin banyak timbul resistensi kuman terhadapnya.
2) Meningkatnya efek samping tidak diimbangi oleh efektivitas obat.
3) Pasien harus mengeluarkan biaya yang lebih tinggi, yang sebagian besar tidak diperlukan.
4) Masking effect yang mungkin timbul menyulitkan follow up pasien dan mungkin menimbulkan kematian bila terlambat diketahui.
5) Menimbulkan false security pada dokter, sehingga mengabaikan cara-cara diagnosis yang baik (Mansjoer dkk., 2001).

f. Faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan antibiotik keliru

Penggunaan obat yang irrasional terjadi di semua negara. Menurut Quick, et.al (1997) penggunaan obat yang irasional terdiri dari;
1) Obat yang diberikan tidak diperlukan (No Drug Needed)
Penggunaan obat pada saat obat tidak diperlukan banyak dijumpai penggunaan obat yang nonterapetik. Contohnya di kebanyakan negara, mayoritas anak-anak yang mengalami infeksi saluran pernafasan atas ringan, diobati dengan antibiotik. Pada saat yang sama, penggunaan antibiotik yang tidak diperlukan dan tidak efektif, daripada menggunakan larutan oral dehidrasi sering diresepkan tanpa membedakan pada anakanak dengan diare akut.
2) Salah obat (Wrong Drug)
Pada beberapa negara, banyak anak-anak dengan faringitis streptococcus yang tidak diobati secara benar dengan menggunakan penisilin spektrum sempit. Sebaliknya tetrasiklin, yaitu obat yang tidak direkomendasikan untuk profilaksi demam rematik yang mengikuti faringitis streptococcus dengan efek samping serius pada anak, biasanya diresepkan.
3) Obat tidak aman (Unsafe Drugs)
Kemungkinan efek samping obat selain efek terapetik dapat muncul pada saat obat yang tidak aman diresepkan. Contoh yang umum penggunaan steroid, anabolik untuk stimulasi pertumbuhan dan nafsu makan pada anak atau atlet. Obat yang tidak efektif dan kemanjuran yang diragukan (Inneffective Drugs and Drugs with Doubtful Efficacy). Tidak digunakannya obat efektif yang tersedia (Under Use of Available Effective Drugs).
4) Penggunaan obat yang tidak benar (Incorrect Use of Drugs)
Sediaan injeksi umumnya digunakan secara tidak benar. Frekuensi penggunaan obat yang tidak benar adalah pada pemberian antibiotik yang hanya untuk 1-2 hari, daripada penggunaan untuk terapi yang penuh (Quick dkk.,1997).

g. Penggunaan antibiotik pada anak-anak

Penggunaan antibiotik yang tidak tepat baik dalam hal indikasi, maupun cara pemberian akan merugikan penderita serta akan memudahkan terjadinya resistensi terhadap antibiotik dan dapat menimbulkan efek samping. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah dosis obat yang tepat bagi anak-anak, cara pemberian, indikasi, compliance (kepatuhan), jangka waktu yang tepat dan dengan memperhatikan keadaan patofisiologi pasien secara tepat, diharapkan dapat memperkecil efek samping yang akan terjadi (Rudolph dkk., 2003).
Anak sering sakit karena menurunnya daya tahan tubuh akibat dari aktifitas yang dilakukan dengan lingkungan sehingga mudah sekali rentan terhadap segala penyakit. Kebanyakan orang tua melihat anaknya sakit tidak merelakan anaknya menderita, maka segala cara dilakukan untuk mengobatinya, termasuk pergi ke dokter. Obat-obat yang diresepkan dokter kebanyakan antibiotik, karena penyakit yang diderita anak biasanya batukpilek, flu, radang tenggorokan ataupun infeksi telinga tengah. Penyakitpenyakit infeksi yang sering diderita anak tersebut terutama disebabkan oleh virus, akan tetapi infeksi virus tidak dapat diatasi dengan pemberian antibiotik. Penggunaan antibiotik yang tidak bijak akan menyebabkan bakteri menjadi resisten terhadap pemberian antibiotik, sehingga pada akhirnya suatu saat nanti antibiotik tidak dapat mengatasi infeksi yang disebabkan oleh bakteri.

2. Infeksi Saluran Pernafasan (ISPA)

a. Definisi

Infeksi saluran nafas bagian atas adalah infeksi-infeksi yang terutama mengenai struktur-struktur saluran nafas di sebelah atas laring. Kebanyakan penyakit saluran nafas mengenai bagian-bagian atas dan bawah secara bersama-sama atau berurutan, tetapi beberapa di antaranya terutama akan melibatkan bagian-bagian spesifik saluran nafas secara nyata (Nelson, 2000).
Istilah infeksi saluran pernafasan atas mengandung tiga unsur yaitu infeksi, saluran pernafasan, dan atas. Infeksi adalah masuknya kuman dan mikroorganisme ke dalam tubuh manusia dan berkembang biak sehingga menimbulkan gejala penyakit. Adapun saluran pernafasan yaitu organ yang mulai dari hidung hingga alveoli beserta sinus-sinus, rongga telinga tengah dan pleura. Dengan demikian infeksi saluran pernafasan secara anatomis mencakup saluran pernafasan bagian atas, saluran pernafasan bagian bawah, termasuk jaringan paru dan organ adneksa saluran pernafasan (Anonim, 2005). Oleh karena itu yang dimaksud infeksi saluran pernafasan atas meliputi proses radang akut yang melibatkan organ pernafasan bagian atas yaitu hidung, sinus paranasal, ruang telinga tengah, orofaring dan tonsil, retrofaring, dan daerah laringo-epiglotis (Shulman dkk., 1994). 16

b. Klasifikasi dan Penatalaksanaan Kasus

Banyaknya infeksi saluran pernafasan atas yang melibatkan daerah anatomi yang tumpang tindih serta mikroorganisme yang bermacam-macam, maka penting bagi dokter mengenali tempat-tempat patologi primer agar dapat menyimpulkan dengan tepat agen etiologi mana yang paling mungkin (Shulman dkk., 1994).

1) Salesma (Common cold)

Salesma merupakan gabungan berbagai gejala yang mengganggu saluran nafas bagian atas utamanya selaput lendir, keadaan ini juga sering kali disebut pilek, rhinitis akut. Common cold disebabkan oleh mediator radang lokal yang merangsang serabut saraf nyeri dan sampai nerbosis sel epitel terbatas, penyebab utama batuk adalah sekresi mukosa faring (postnastal drip) dan bukan karena kelainan saluran nafas bagian bawah. Rata-rata lama Cold rinovirus dan Koronavirus kurang dari satu minggu. Ada permulaan yang mendadak sekresi hidung cair, hidung tersumbat, dan nyeri tenggorokan ringan dengan renorea cepat yang bertahan selama 2-4 hari dan kemudian sedikit demi sedikit sembuh (Shulman dkk., 1994).
Pilek merupakan penyakit yang sangat umum pada anak-anak. Beberapa anak mungkin terserang penyakit ini 5 atau 6 kali setiap tahun, gejalanya yaitu keluar ingus cair dari hidung, sakit tenggorokan, sakit kepala dan kadang-kadang sakit demam. Penyakit ini biasanya sembuh 2 sampai 3 hari. Terapi dengan antibiotik sebaiknya tidak diberikan untuk pilek karena tidak dapat membunuh virus penyebab pilek ini (Biddulph dan Stace, 1999). Gejala pilek dan ingusan hanya dilakukan tindakan dengan membersihkan hidung dengan kain pembersih yang bersih. Jangan sampai ingus mengering dan menyumbat lubang hidung, kalau perlu dibasahi dulu supaya dapat dikeringkan. Obat-obat pilek tidak diperlukan, oleh karena gejala tersebut akan hilang dengan sendirinya dalam beberapa hari bila tidak ada komplikasi (Dwiprahasto, 1998).

2) Sinusitis

Infeksi sinus pranasal membawa banyak persamaan dengan infeksi ruang telinga. Fisiologi normal sinus tergantung pada : keterbukaan ostia, fungsi apacatus siliare, dan kualitas sekresi mukosa (Shulman dkk., 1994).
Faktor yang memberi kecenderungan pada obstruksi ostimus sinus meliputi faktor yang terkait dengan pembekalan mukosa, termasuk infeksi virus, alergi, silia tidak bergerak, iritasi kimia oleh obat-obatan (obatobatan rhinitis), barotraumas (menyelam), dan trauma muka. Yang paling penting dari faktor-faktor ini yang menciptakan pembengkakan mukosa jelas adalah alergi dari virus infeksi saluran pernafasan atas. Sinusitis merupakan penyakit yang sangat serius, sering sub klinik dan sembuh sendiri, tetapi sering memerlukan perhatian pengobatan (Shulman dkk., 1994). 18
Menurut WHO (2001) sinusitis akut karena S. pneumoniae dan H. influenzae diberikan antibiotik amoksisillin 250-500 mg 3 kali sehari, kombinasi amoksisillin dan clavulanic acid, atau kombinasi sulfametoksasol dan trimethoprim 2 kali sehari selama 7-10 hari. Sedangkan dari pedoman pengobatan Rumah Sakit, sinusitis akut diberikan terapi amoksisilin 25-50 mg/kgBB/hari (Anonim, 2006b).

3) Faringitis atau Tonisilitis

Tonsilitis akut sering terjadi di daerah tropis ditandai dengan sakit tenggorokan, suhu badan meninggi, kadang muntah dan sakit perut. Pemeriksaan menunjukkan pembengkakan dan rasa nyeri pada kelenjar di sudut rahang, tonsil merah dan meradang. Tonsilitis akut dapat terjadi bersaman dengan faringitis akut. Virus penyebabnya adalah Epstein-Barr virus (EBV), sedangkan bakteri penyebabnya adalah Streptococcus pyogenes yang menyebabkan nyeri tenggorokan (Mansjoer dkk., 2001).
Menurut standar WHO penatalaksanaan tonsilitis faringitis yang disebabkan bakteri antibiotik yang disarankan meliputi eritromisin atau sefalexin untuk pasien yang mempunyai riwayat alergi terhadap antibiotik golongan penisilin. Alternatif lain yang disebutkan yaitu benzyl penisilin, atau fenoksimetilpenisilin, atau amoksisillin, diberikan selama 10 hari (Anonim, 2001). Sedangkan dari pedoman pengobatan Rumah Sakit, tonsilitis faringitis diberikan terapi amoksisilin 25-50 mg/kgBB/hari (Anonim, 2006b). 19

4) Otitis media

Peradangan telinga tengah merupakan penyakit yang paling sering terjadi pada anak-anak di bawah 3 tahun, dan bakteri lebih banyak ditemukan sebagai penyebabnya. Akan tetapi virus seperti virus influenza dan rhinoviruses, walaupun jarang, tetapi juga terkadang ditemukan. Bakteri yang paling sering menyebabkan penyakit ini adalah Streptococcus pneumoniae dan H. influenzae, sedangkan bakteri Morraxella catarrhalis dan Strep. pyogenes juga dapat menjadi penyebab namun kasusnya jarang terjadi (Walker dan Edward, 2003).
Pada perjalanan penyakit biasanya seorang anak dengan infeksi saluran nafas bagian atas selama beberapa hari akan mengalami otalgia, demam dan gangguan pendengaran. Pemeriksaan otoskop pneumatic akan mengungkapkan adanya membran timpani hiperamis, suram, menggelembung, dan mempunyai pergerakan yang buruk, serta dapat dijumpai otore bernanah (Nelson, 2000).
Pengobatan otitis media akut adalah dengan amoksisillin 250- 500 mg 3 kali sehari, kombinasi amoksisillin dan clavulanic acid, atau kombinasi sulfametoksasol dan trimethoprim 2 kali sehari selama 5 hari (Anonim, 2001). Sedangkan dari pedoman pengobatan Rumah Sakit, otitis media diberikan terapi amoksisillin 25-50 mg/ kgBB/ hari (Anonim, 2006b). 20

3. Anak

Penggolongan masa anak-anak menurut The British Pediatric Association (BPA) :
a. Neonatus; awal kelahiran - 1 bulan
b. Bayi (infant): 1 bulan - 1 tahun
c. Anak : 1 tahun - 12 tahun
d. Remaja: 12 tahun - 18 tahun

4. Pengobatan yang rasional

Suatu pengobatan dikatakan rasional bila memenuhi beberapa kriteria tertentu. Kriteria ini mungkin akan bervariasi tergantung interpretasi masingmasing, tetapi paling tidak akan mencakup :
a. Ketepatan indikasi
b. Ketepatan pemilihan obat
c. Ketepatan cara pakai dan dosis obat
d. Ketepatan penilaian terhadap kondisi pasien dan atau tindak lanjut pengobatan (Santoso dkk., 2003)
Penulisan resep yang tidak rasional selain menambah biaya kemungkinan juga dapat menimbulkan efek samping yang semakin tinggi serta dapat menghambat mutu pelayanan. Harga obat tidak terjangkau masyarakat akan menyebabkan hasil yang tidak diinginkan. Pengobatan yang irasional adalah pengobatan yang tidak sesuai atau tidak tepat dengan dosis, indikasi, jenis obat, diagnosis, cara dan lama pemberian, penilaian terhadap kondisi pasien, informasi dan tindak lanjutnya. (Sastramihardjo, 1997). 21
Langkah-langkah terapi yang rasional menurut World Health Organization (WHO) :
a. Menetapkan masalah pasien
b. Menentukan objek terapi
c. Memilih strategi terapi
1) Terapi Non Farmakologi
2) Terapi Farmakologi
a) Memilih kelompok obat yang tepat
b) Memilih obat dari kelompok obat terpilih
c) Menguji kecocokan dari terapi farmasi yang dipilih untuk pasien
d) Menulis resep
e) Memberi informasi, pengarahan dan peringatan
f) Monitoring terapi




Rabu, 02 Januari 2013

Penyimpanan Obat


Masa penyimpanan  semua jenis obat mempunyai batas waktu, karena lambat laun obat akan terurai secara kimiawi akibat pengaruh cahaya, udara dan suhu. Akhirnya khasiat obat akan berkurang. Tanda2 kerusakan obat kadangkala tampak dengan jelas, misalnya bila larutan bening menjadi keruh dan bila warna suatu krim berubah tidak seperti awalnya ataupun berjamur. Akan tetapi dalam proses rusaknya obat tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Bentuk dan baunya obat tidak berubah, namun kadar zat aktifnya sudah banyak berkurang, atau terurai dengan membentuk zat-zat beracun. berkurangnya zat aktif hanya dapat ditetapkan dengan analisa di laboratorium. Menurut aturan nternasional, kadar obat aktif dalam suatu sediaan diperbolehkan menurun sampai maksimal 10%, lebih dari 10% dianggap terlalu banyak dan obat harus dibuang.

Aturan penyimpanan
Guna memperlambat penguraian, maka semua obat sebaiknya disimpan di tempat yang sejuk dalam wadah asli dan terlindung dari lembab dan cahaya. Dan hendaknya di suatu tempat yang tidak bisa dicapai oleh anak2, agar jangan dikira sebagai permen berhubung bentuk dan warnanya kerapkali sangat menarik. Obat-obat tertentu harus disimpan di lemari es dan persyaratan ini selalu dicantumkan pada bungkusbya, mis. insulin.

Lama penyimpanan obat
Masa penyimpanan obat tergantung dari kandungan dan cara menyimpannya. Obat yang mengandung cairan paling cepat terurainya, karena bakteri dan jamur dapat tumbuh baik di lingkungan lembab. Maka itu terutama obat tetes mata,  kuping dan hidung, larutan, sirup dan salep yang mengandung air/krim sangat terbatas jangka waktu kadaluwarsanya. Pada obat-obat biasanya ada kandungan zat pengawet, yang dapat merintangi pertumbuhan kuman dan jamur. Akan tetapi bila wadah sudah dibuka, maka zat pengawetpun tidak dapat menghindarkan rusaknya obat secara keseluruhan. Apalagi bila wadah sering dibuka-tutup. mis. dengan tetes mata, atau mungkin bersentuhan dengan bagian tubuh yang sakit, mis. pipet tetes mata, hidung atau telinga. Oleh karena itu obat hendaknya diperlakukan dengan hati-hati, yaitu setelah digunakan, wadah obat perlu ditutup kembali dengan baik, juga membersihkan pipet/sendok ukur dan mengeringkannya. Di negara2 maju pada setiap kemasan obat harus tercantum bagaimana cara menyimpan obat dan tanggal kadaluwarsanya, diharapkan bahwa di kemudian hari persyaratan ini juga akan dijalankan di Indonesia secara menyeluruh. Akan tetapi, bila kemasan aslinya sudah dibuka, maka tanggal kadaluwarsa tsb tidak berlaku lagi.

Beberapa Istilah Dalam Farmasi

  • BSO = Bentuk Sediaan Obat
  • BS = Bentuk Sediaan
  • Inst. Fa.RS = Instalasi Farmasi Rumah Sakit
  • SO = Sediaan Obat
  • P = Pediatrik (Anak-anak)
  • A = Adult (dewasa)
  • F = Forte (Fortior = penuh, lebih besar)
  • G = Geriatric (orang lanjut usia)
  • Syr = Syrupus
  • Cap = Capsula
  • Capl = Caplet (tablet berupa capsul)
  • Dry syr = Sirup kering
  • DS = Double strength (kekuatan belipat ganda)
  • SR = Sustained release (lepas lambat)
  • Eye drops = Tetes mata
  • Ear drops = Tetes telinga
  • Nasal drops = Tetes hidung
  • Oculenta = Salap mata
  • Top = Topikal (Kulit)
  • Unguenta = Zalaft, salap, salep
  • Epithema = Obat kompres kulit (topikal)
  • Gargarisma = Collutorium, obat kumur
  • Antidote = Penawar racun
  • Antiseptic = Antiseptis, pemusnah hama
  • Derivate = Turunan, generasi
  • Granule = Butir, butiran
  • Retention = Retensi, tambatan, tertahan
  • Enteral = saluran pencernaan
  • Pan-enteral = diluar saluran pencernaan.
  • Per-oral = melalui mulut terus ke aesofagus dan saluran pencernaan.
  • Inplantasi = penggunaan obat dibawah kulit (menanam, mendepot) dengan membedah bagian kecil kulit secara steril

Obat Palsu


Obat palsu adalah yang dengan sengaja dan curang diberi label identitas dan/atau sumber yang salah. Obat palsu adalah produk farmasi yang sengaja dipalsukan identitas, komposisi, atau sumbernya. Obat ini bisa:
  • Tidak mengandung zat aktif sama sekali,

  • Mengandung zat aktif yang salah atau kadarnya tidak sesuai,

  • Menggunakan bahan berbahaya atau kontaminan,

  • Diproduksi tanpa mengikuti standar farmasi yang benar.

🚫 Bahaya Obat Palsu

  1. Tidak menyembuhkan penyakit – karena zat aktifnya salah atau tidak ada.

  2. Menimbulkan efek samping berbahaya – karena bahan kimia tidak terstandar atau mengandung racun.

  3. Meningkatkan resistensi antibiotik – jika kadar antibiotik tidak mencukupi.

  4. Menyesatkan pasien – membuat mereka percaya bahwa mereka sedang mendapat pengobatan yang benar.


📊 Fakta di Indonesia

  • Menurut data BPOM dan WHO, peredaran obat palsu di Indonesia cukup mengkhawatirkan, terutama di jalur distribusi tidak resmi (online, pasar gelap).

  • Obat palsu paling sering ditemukan pada:

    • Antibiotik

    • Obat kanker

    • Suplemen kesehatan

    • Obat pelangsing/pembesar tubuh


⚖️ Aspek Hukum

  • UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan: Pemalsuan obat diancam pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp1 miliar.

  • UU Perlindungan Konsumen: Konsumen berhak mendapatkan kompensasi dan perlindungan hukum.


✅ Cara Menghindari Obat Palsu

  1. Beli di apotek resmi – jangan membeli dari toko online tidak terpercaya.

  2. Cek kemasan – pastikan ada izin BPOM, tanggal kedaluwarsa, dan kondisi kemasan utuh.

  3. Gunakan aplikasi Cek BPOM – untuk memverifikasi nomor registrasi obat.

  4. Waspadai harga terlalu murah – bisa jadi itu obat palsu

Cara Penggunaan Obat


Bagaimanakah menggunakan obat?



Obat dapat digunakan dengan banyak cara, tetapi yang layak untuk swamedikasi adalah: melalui mulut, melalui dubur dan melalui kulit/selaput lendir (salep, krem, tetes mata/hidung/kuping). Obat yang digunakan melalui mulut dinamakan obat dalam, sedangkan semua obat lainnya, termasuk yang digunakan melalui dubur dan kulit disebut obat luar. Juga tetes mata, hidung dan kuping, obat injeksi dan inhalasi termasuk obat luar.

a. Melalui mulut.

Cara ini paling banyak digunakan dan meliputi obat dalam bentuk sirup, suspensi dan obat tetes, tablet, tablet bersalut, kapsul dan serbuk. Cara ini disebut per oral.
Obat mengikuti jalan makanan di saluran cerna dan pada umumnya mulai diserap di usus kecil. Setelah masuk ke dalam darah, terlebih dahulu obat harus melewati hati, dimana sebagian di inaktifkan oleh enzim. Sisanya obat baru mencapai sirkulasi darah besar untuk didistribusikan ke organ-organ untuk melakukan kerjanya.
Pengecualian adalah misalnya tablet hisap terhadap nyeri tenggorokan, yang harus bekerja setempat di tenggorokan, tablet (jantung) yang harus dilarutkan dibawah lidah demi efek segera dan juga tablet untuk usus yang tidak diserap kedalam darah karena harus bekerja setempat dalam usus. Pada umumnya obat yang dilarutkan dalam cairan (larutan, sirop) lebih cepat diserapnya ke dalam darah dan juga lebih cepat mulai kerjanya, daripada obat dalam bentuk padat (tablet, kapsul dan serbuk). Untuk menghindari diuraikannya obat aktif oleh asam lambung, maka untuk tablet-tablet tertentu tersedia bentuk dimana zat aktif baru terlepas di usus kecil (tablet enteric coated). Untuk memperpanjang lama kerja obat terdapat tablet retard, yang dibuat secara khas agar obat dilepaskan secara berangsur-angsur di saluran cerna.


b. Melalui dubur.

Cara ini biasanya digunakan untuk supositoria. Metode ini dinamakam penggunaan rektal, karena obat dimasukkan melalui dubur ke bagian terakhir dari usus (rectum). Keuntungan cara ini adalah obat tidak usah melewati hati, dimana dapat terjadi penguraian sebelum sampai di peredaran darah besar. Juga cocok digunakan bagi orang yang sedang mual atau sukar menelan, atau pada orang yang tidak mau "bekerjasama", mis. bayi, pasien penyakit jiwa, orang pingsan, dsb. Seringkali obat yang bersifat merangsang lambung atau terurai oleh getah lambung diberikan dalam bentuk supositoria.
Kerugiannya adalah penyerapan obat dari selaput lendir poros usus tidak konstan dan sangat berubah-ubah, sedangkan mulai efeknya seringkali lebih lambat. Selain itu banyak orang menganggap cara penggunaan ini sebagai kurang praktis dan agak sulit.
Supositoria berbentuk peluru, dimana obat terlarut atau terbagi secara halus dalam suatu lemak padat. Pada suhu tubuh (+ 36,8 C) lemak melumer dan obat dibebaskan.

c. Melalui kulit.

Pada umumnya obat dalam salep atau krem ditujukan untuk bekerja setempat di kulit tanpa diserap kedalam darah. Pada tetes mata, telinga dan hidung obat diserap melalui selaput lendir. Karena semua obat itu bekerja setempat (di kulit, mata, hidung atau telinga) dan jarang sekali diserap kedalam darah, maka resiko akan efek sampingnya pada umumnya ringan sekali.




 SWAMEDIKASI

Dewasa ini masyarakat sudah bertanggungjawab atas kesehatan diri dan keluarga. Dimana-mana dibutuhkan penyuluhan yang jelas dan tepat mengenai penggunaan secara aman dari obat-obatan yang dapat dibeli secara bebas di apotik guna swamedikasi. Swamedikasi berarti mengobati segala keluhan pada diri sendiri dengan obat-obat yang dibeli bebas di apotik atau toko obat atas inisiatif sendiri tanpa petunjuk dokter. Salah satu keuntungan swamedikasi yang dapat disebut adalah bahwa seringkali obat-obat untuk itu memang sudah tersedia di lemari obat pada rumah tangga.
Lagipula bagi orang yang tinggal di desa terpencil, dimana belum ada praktek dokter, swamedikasi akan menghemat banyak waktu yang diperlukan untuk pergi ke kota mengunjungi seorang dokter.


Resiko Swamedikasi

      1. Tidak mengenali keseriusan gangguan. Keseriusan keluhan-keluhan dapat dinilai secara salah atau mungkin tidak dikenali, sehingga pengobatan sendiri bisa dilakukan terlalu lama. Keluhan-keluhan itu dapat semakin parah, sehingga  dokter  perlu menggunakan obat-obat yang keras atau bahkan karena tidak ditanggapi secara serius, dapat datang terlambat pada dokter.
     
2.
Penggunaan kurang tepat, resiko lain adalah bahwa obat bisa digunakan secara salah, terlalu lama atau dalam takaran yang terlalu besar. Contoh2 terkenal adalah tetes2 hidung dan obat sembelit (laksansia), yang bila digunakan terlampau/lama, malah dapat memperburuk keluhan. Begitupula dengan obat-obat alamiah, yang mencakup ramuan jamu dan tumbuhan yang dikeringkan, seringkali dianggap lebih baik dan lebih aman. Ini adalah suatu kesalahpahaman, karena juga jamu kadangkala dapat mengandung zat aktif dengan khasiat keras yang dapat menimbulkan efek samping berbahaya.

Guna mengatasi resiko tersebut, maka perlu sekali untuk dapat mengenali gangguan - gangguan. Selain itu bacalah aturan pakai atau peringatan yang selalu diikutsertakan secara seksama dan ditaati dengan baik.

penyakit-penyakit yang lebih serius tidak boleh dicoba diobati sendiri, antara lain gangguan jantung dan pembuluh, kencing manis, penyakit infeksi, gangguan jiwa dan kanker. Untuk penyakit tersebut penting sekali untuk pergi ke dokter sedini mungkin.
Di bawah ini disebutkan sejumlah gejala berbahaya, yang tidak boleh diobati sendiri karena menunjukkan suatu penyakit serius:
-   kebanyakan keluhan pada mata
-   batuk dan serak yang bertahan lebih lama dari 1-2 minggu dan tidak mau sembuh, juga batuk darah
-   terjadinya setiap perubahan pada tahi lalat atau kutil
-   rasa nyeri atau sulit menelan yang tidak mau sembuh
-   borok yang tidak mau sembuh
-   buang air besar/kecil dengan darah, atau adanya perubahan menetap dari pola pembuangan air atau konsistensi tinja (diare atau sembelit)
-   rasa nyeri atau sulit buang air kecil
-   keluarnya lendir/darah yang luar biasa dari vagina
-   timbulnya benjolan kecil pada buah dada atau di tempat lain dari tubuh
-   demam diatas 40 C yang bertahan lebih lama dari 2-3 hari, yang disertai gejala2 lain, seperti nyeri tenggorok (dengan bintik2 putih), ruamkulit yang hebat atau lepuh
-   diare atau muntah2 yang hebat.


Keluhan yang dapat diobati sendiri

Penting untuk dapat mengenali gangguan-gangguan serius. Dari apa yang diuraikan diatas, penting sekali untuk mengetahui, keluhan2 mana yang dapat kita obati sendiri dan mana yang tidak. Dalam praktek, batasnya ditentukan oleh obat2 yang dapat dibeli di apotik secara bebas atau hanya atas resep dokter.
Keluhan2 ringan. Pada umumnya boleh dikatakan, bahwa gangguan2 agak ringan yang biasanya sembuh dengan sendirinya (tanpa obat) seperti selesma, flu,nyeri kepala dan tenggorok, se-kali2 nyeri lambung, punggung atau nyeri otot yang tidak terus-menerus layak bagi swamedikasi.


Bagaimana mengobati Flu dan Salesma dengan Swamedikasi?


Semua gejala dari selesma dan flu layak untuk diobati sendiri karena tersedia banyak sekali sediaan bebas. Bila keluhan-keluhan terutama demam tinggi diatas 39-40°C, bertahan lebih lama dari 3-4hari, sebaiknya jangan meneruskan pengobatan sendiri tetapi segera mengkonsultasi dokter.


Vitamin C.


Sejak tahun-tahun lima puluhan, vitamin C dalam dosis tinggi seringkali dianjurkan untuk menghindarkan dan terutama flu. Diperkirakan, bahwa dengan dosis tinggi itu Sel-sel daya tahan tertentu (limfosit) dirangsang jumlah dan aktivitasnya, hingga dapat membunuh virus dengan lebih cepat. Namun, penyelidikan lain tidak berhasil membuktikan secara ilmiah kesimpulan mengenai efektivitas vitamin C dalam     mengurangi gejala-gejala dan mempersingkat lamanya serangan influenza.

Dosisnya :

vitamin C dosis tinggi yakni 3x sehari. Penggunaan ini tidak ada salahnya, bila dosis itu hanya digunakan selama maksimal 3-4 hari.
Hanya orang yang sedang menderita penyakit ginjal atau hati sebaiknya jangan menggunakan dosis tinggi ini, karena akan memperberat kerja organ-organ tersebut. Yang penting adalah larutkan terlebih dahulu vitamin C yang bersifat asam dalam air untuk menghindari rangsangan terhadap selaput lendir lambung dan kemudian minum larutan ini, disusul dengan segelas air.

  
Hidung mampet dan pilek, bagaimana swamedikasinya?

Menghirup uap panas adalah suatu cara yang sederhana tetapi efektif untuk meringankan hidung mampet dan peradangan rongga dahi. Caranya adalah menghirup (inhalasi) uap air panas 2-3 kali sehari. Caranya ialah menuangkan l-1,5 liter air mendidih ke dalam sebuah bejana, lalu muka ditundukkan  15 cm diatas air dan kepala serta bejana diselubungi dengan sehelai handuk. Kemudian uap disedot, pelan-pelan dengan hati-hati agar muka tidak "terbakar", lalu secara lebih mendalam selama lO menit.

Obat-obat yang mudah menguap. Pada air panas ini dapat pula dibubuhi sedikit zat terbang seperti mentol, kamfer, eukaliptol, minyak kayu putih atau azulen. Juga dapat dalam bentuk salep (Vicks, dsb). Zat atsiri ini berfungsi melebarkan pembuluh kecil di mukosa (vasodilatasi) dan membantu melegakan dan meringankan rasa sesak di dada dan penyumbatan hidung.

Untuk anak di bawah 3 tahun sebaiknya jangan digunakan mentol atau salep yang mengandung zat ini, karena justru dapat menimbulkan sesak dan kejang di bagian tenggorok (larynx). Lebih baik digosok bagian dada, leher dan punggungnya dengan minyak kayu putih, atau meneteskannya di atas bantal atau bajunya.

Penelitian  menunjukkan, bahwa panas uap diatas 42°C dapat mematikan virus di rongga hidung dan rongga sampingnya. Diperkirakan pula, bahwa pada suhu tinggi itu aktivitas limfosit2 dan fagisitosis sangat meningkat. Sifat ini mungkin dapat membantu mempersingkat waktu penyembuhan selesma dan flu.


Obat tetes hidung
.

Untuk memperkecil selaput lendir yang bengkak seringkali    digunakan tetes hidung atau spray, yang mengandung suatu zat yang memperkecil  pembuluh darah. Dapat dianjurkan obat-obat bebas oksimetazolin (Afrin, Iliadin dan Otrivin), nafazolin (Denastin, Ha Ifazolin ) dan fenilefrin (komb. Vibrocil). Efedrin (Osavin) sebaiknya jangan digunakan berhubung lebih sering timbulnya efek samping.

Dosis untuk dewasa adalah 3x sehari 2-3 tetes. anak2 dari 2-6 tahun: 2-3x sehari tetes dari larutan untuk anak2.


Cara pakainya :

Mula-mula hidung dibersihkan dahulu tiap lubang bergantian, lalu dengan kepala diarahkan ke belakang, masukkan 1-2 tetes kedalam setiap lubang hidung. Lalu kedua lubang ditutup dengan jari-jari dan kepala ditundukkan ke bawah. Setelah beberapa menit hidung dapat dilepas lagi. Mengingat kemungkinan penularan melalui pipet, maka sebaiknya sesudah meneteskan obat, pipet dibilas dengan air panas.Dianjurkan untuk menggunakan satu botol obat untuk hanya satu pasien. Dilihat dari sudut hygiene, semprotan (spray) hidung dianggap lebih baik.
Tetes hidung setelah dibuka hendaknya jangan disimpan lebih lama dari 2-3 bulan. Obat tetes hidung dan inhalasi uap panas juga berguna untuk membantu menghindari menjalarnya infeksi ke rongga samping dan telinga tengah. Juga untuk mengatasi nyeri telinga dengan jalan mencegah mampatnya tabung Eustachius.

Tablet dan sirup Efedrin, fenilefrin dan juga turunannya fenilpropanolamin banyak digunakan dalam sediaan2 flu bersama parasetamol dan/atau obat batuk (Nalgestan, New Coldin, Paranomin). Efek samping yang adakalanya terjadi adalah peningkatan tekanan darah akibat penciutan pembuluh dan debar jantung. Maka dari itu pasien2 jantung dan tekanan darah tinggi harus berhati-hati, jangan terlalu sering atau terlalu lama menggunakannya. Pada anak kecil juga harus diperhatikan penggunaanya agar dosisnya jangan sampai terlampau besar. Karena pada anak-anak permukaan mukosa yang tersedia untuk menyerap obat adalah 3 kali lebih luas daripada orang dewasa.

Obat tetes hidung hendaknya jangan digunakan secara sembarangan dan untuk waktu terlalu lama, maksimal hanya 4-5 hari. Lagipula setelah masa ini biasanya infeksi memang sudah sembuh. Efek sampingnya adalah timbulnya bahaya kebiasaan karena akhirnya obat-obat tersebut dapat mengakibatkan hidung tersumbat. Dengan demikian akan terjadi penyumbatan kronis. Disamping itu pada penggunaan lama fungsi bulu-bulu getar akan menurun dan mukosa dapat dirusak .
Larutan garam dapur 0,9% dianggap lebih aman bagi bayi dan anak kecil karena tidak memperlihatkan efek samping. Larutan ini juga dapat mengencerkan ingus yang kental dan juga melegakan hidung yang mampat. Lagipula dalam keadaan darurat mudah dibuatnya sendiri dengan jalan melarutkan 1 sendok teh garam dapur dalam segelas air hangat (1,8g dalam 200ml air). Dosisnya 3-6 x sehari 10-20 tetes di setiap lubang hidung setelah terlebih dahulu dibersihkan dari ingus. Orang dewasa dapat menghirup larutan ini 3 x sehari sebanyak 5-10 ml sekalinya untuk ""membilas" rongga hidung.


Obat rumah tangga.


Sebuah bawang merah yang dibelah dua diletakkan disisi bantal kepala atau setelah dipotong halus2, dibungkus dalam sehelai sapu tangan dan diikatpada leher anak. Meski baunya kurang sedap, namun ternyata zat-zat yang menguap dari bawang berfungsi melebarkan pembuluh di selaput lendir, sehingga melegakan hidung yang mampat.
           

Batuk kering bagaimana swamedikasinya?
       
Untuk batuk kering yang gatal tanpa dahak, tersedia sejumlah obat  bebas/ bebas terbatas (W), yaitu zat peredam gatal, noskapin (Longatin dan Neocodin) serta dekstrometorfan (Romilar dan Siladex strop). Obat-obat ini menekan diteruskannya rangsangan batuk ke pusat batuk di sumsum lanjutan.

Noskapin adalah suatu alkaloida dari candu, dengan daya meredakan gatal batuk yang lebih lemah dari kodein), tetapi tanpa sifat efek samping yang di timbulkan codein (ketagihan, sesak nafas dan sembelit). Sebaiknya wanita hamil jangan menggunakan obat ini. Dosisnya adalah dewasa 3-4 kali sehari 30-50 mg, maksimal 250 mg sehari.

Dekstrometorfan adalah turunan buatan dari kodein dengan efek menekan batuk yang hampir sama kuatnya dengan codein, tetapi juga tanpa sifat2 buruknya. Efek sampingnya hanya berupa rasa kantuk ringan dan perasaan mual. Dosisnya adalah 3-4 kali sehari 15 mg.

Selain itu juga seringkali digunakan suatu antihistamin dengan efek meredakan pula terhadap rangsangan batuk. Sangat terkenal adalah difenhidramin (Benadryl sirop) dan prometazin (Phenergan sirop). Sirup dengan prometazin sebaiknya jangan diberikan pada anak2 dengan usia dibawah 1 tahun. Klorfeniramin (Chlorphenon) memerlukan resep, begitupula ketotifen (Zaditen)dan oksatomid (Tinset), yang sering diberikan oleh dokter berhubung dengan khasiatnya yang dapat mencegah serangan asma.

Tablet hisap. Pada keadaan darurat, gula-gula (drop, permen) atau tablet hisap (yang digunakan pada nyeri tenggorok) juga dapat meringankan batuk, karena pada hakekatnya gerakan menelan sudah memberikan efek menekan rangsangan batuk.

Semua obat yang meredam rangsangan batuk, sebaiknya jangan digunakan pada batuk basah yang menghasilkan banyak dahak. Hanya dalam keadaan2 tertentu penggunaannya dapat dibenarkan dan juga hanya untuk jangka waktu yang singkat, misalnya bila batuk hebat mengganggu tidur atau setelah pembedahan.
  


Selengkapnya lihat di : http://www.farmasiku.com/  penyedia obat-obatan secara online